Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 8 November 2023 | 00.37 WIB

Ngopi Sepuluh Ewu, Cara Banyuwangi Pererat Persaudaraan

Sajian kopi tergelar di setiap halaman rumah warga suku Osing di Desa Kemiren sepanjang 2 Km dalam tradisi Ngopi Sepuluh Ewu. - Image

Sajian kopi tergelar di setiap halaman rumah warga suku Osing di Desa Kemiren sepanjang 2 Km dalam tradisi Ngopi Sepuluh Ewu.

JawaPos.com–Ribuan orang memadati jalan utama Desa Kemiren untuk menikmati kopi yang disuguhkan masyarakat suku Osing, dalam tradisi Ngopi Sepuluh Ewu, di Desa Adat Kemiren Banyuwangi, Sabtu (4/11) malam. Menariknya, sajian kopi tergelar di setiap halaman rumah warga Desa Kemiren sepanjang 2 Km. 

Di sepanjang jalan dengan mengenakan pakaian adat Osing, warga desa menyuguhkan kopi kepada para tamu dengan menggunakan cangkir khusus yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Kopi yang disajikan beragam, mulai dari arabika, robusta, hingga house blend. Disajikan pula beragam jajanan tradisional untuk menemani nyruput kopi.

Festival ini juga memiliki filosofi "sak corot dadi seduluran, yang artinya sekali seduh kita bersaudara. Dengan ngopi bersama, warga desa merekatkan persaudaraan.

Tradisi yang masuk rangkaian Banyuwangi Festival itu bukan sekadar acara minum kopi bersama, melainkan pertunjukan budaya yang menggambarkan keramahan dan kemurahan hati warga Osing. Pengunjung yang hadir diajak minum kopi sambil lesehan ataupun duduk di teras halaman yang disulap menjadi ruang tamu.    

”Kopinya gratis, kami hanya meminta pengunjung cukup membayar makanan saja sebagai ganti bahan saja. Ini adalah filosofi kami; lungguh, gupuh, dan suguh. Kalau ada tamu kami mempersilakan duduk (lungguh), menyiapkan dan menyuguhkan makanan (gupuh dan suguh),” kata Ahmad, salah seorang warga setempat.       

Banyak masyarakat dari berbagai daerah di Banyuwangi hadir di acara tersebut. Event itu dijadikan warga untuk berkumpul dengan kerabatnya di akhir pekan. Mereka tampak akrab dan bercengkerama dengan warga desa sambil menyeruput kopi hangat.

Ribuan orang menikmati kopi yang disuguhkan masyarakat suku Osing dalam tradisi Ngopi Sepuluh Ewu di Desa Adat Kemiren Banyuwangi, Sabtu (4/11) malam.

Ngopi Sepuluh Ewu juga menarik wisatawan mancanegara. Salah satunya Patrick O’Brien, asal Irlandia yang mengaku senang bisa datang ke Festival Ngopi Sepuluh Ewu.

”Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Saya bisa merasakan kopi khas Indonesia yang lezat dan beragam, serta merasakan keramahan dan kehangatan warga Desa Kemiren. Saya juga belajar banyak tentang budaya dan tradisi suku Osing yang unik dan menarik. Saya merasa seperti menjadi bagian dari keluarga besar di sini,” kata Patrick O’Brien.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan, selain bagian dari tradisi, Ngopi Sepuluh Ewu juga bertujuan menggerakkan sektor ekonomi kreatif berbasis kopi. ”Banyuwangi memiliki potensi kopi yang luar biasa, dan banyak anak muda yang menggarapnya dengan kemasan menarik. Festival ini menjadi ajang untuk mempromosikan kopi Banyuwangi ke pasar nasional dan internasional,” kata Ipuk.

Ipuk mengajak para pengunjung menikmati kopi dan bersilaturahmi dengan sesama. ”Mari kita angkat cangkir kopi kita, berbagi cerita dan sempurnakan hari ini dengan persahabatan. Selamat menikmati Festival Kopi Sepuluh Ewu,” tutur Ipuk.

Sementara itu, Kepala Desa Kemiren Muhamad Arifin mengatakan, Ngopi Sepuluh Ewu digelar bersama dengan perayaan Hari Jadi desa Kemiren pada 5 November. ”Kami sengaja mengundang seluruh masyarakat Banyuwangi dan wisatawan datang ke perayaan Desa Kemiren untuk merasakan kehangatan dan persaudaraan dalam setiap teguk kopi,” jelas Arifin.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore