Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 23 September 2023 | 22.36 WIB

Pakar Psikologi Forensik Sebut Anak-Anak Rempang Berhadapan dengan Risiko Trauma, Depresi, dan Gagal Akademis

Ratusan massa mengikuti Aksi Bela Rempang di kawasan Patung Arjuna Wiwaha, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (20/9/2023). - Image

Ratusan massa mengikuti Aksi Bela Rempang di kawasan Patung Arjuna Wiwaha, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (20/9/2023).

JawaPos.com–Komnas HAM menyebut anak-anak Rempang sebagai kelompok rentan. Masalah kejiwaan dan perilaku yang dialami anak, dinilai Komnas HAM diakibatkan oleh kekerasan.

”Komnas HAM betul. Tapi derita psikologis juga sangat mungkin disebabkan oleh pemindahan itu sendiri. Apalagi karena sejak awal anak-anak melihat bahwa ini adalah pemaksaan relokasi,” ujar pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel.

Menurut dia, apabila pemerintah tutup mata terhadap risiko nyata itu hal yang menyedihkan. Terbukti, Pemerintah hanya mengutus Menteri Bahlil untuk meneduhkan suasana.

”Menteri Bahlil tentu cuma fokus pada sisi investasi. Menteri yang berurusan dengan anak-anak, antara lain MenPPPA, Mendikbud, dan Menko PMK, tidak diperintahkan menemui warga Melayu Rempang,” ujar Reza.

”Inilah potret pemerintah memang tidak cukup ngeh bahwa anak-anak Rempang berhadapan dengan risiko trauma, depresi, kegagalan akademis, kendala bersosialisasi, dan konsekuensi buruk jangka panjang lainnya akibat dipaksa angkat kaki dari kampung halaman mereka,” tambah dia.

Dia menambahkan, penderitaan berganda dapat dialami oleh anak-anak yang orang tua mereka berurusan dengan otoritas penegakan hukum. Perbuatan para lelaki dewasa itu pada hakikatnya merupakan satu-satunya cara yang tersisa dari masyarakat asli untuk mempertahankan tanah negeri dan harga diri mereka. Juga luapan perasaan putus asa karena DPR dan DPRD tak bersuara menjaga masyarakat yang mereka wakili.

”Lelaki dewasa Rempang itu bukan penjarah, penikmat huru-hara, atau penjahat yang mencari keuntungan instrumental rendahan,” ucap Reza.

Dalam kemelut itu, dia menambahkan, anak-anak menyaksikan bagaimana penguasa memaksa ayah mereka untuk setengah telanjang, berjongkok, lalu diarak, dan bentuk-bentuk penanganan intimidatif, bahkan perlakukan tidak manusiawi lainnya.

”Visual sedemikian rupa melukai batin, dan tak mungkin anak-anak Rempang tenang-tenang saja melihat kehina-dinaan ditimpakan ke ayah mereka,” tandas Reza.

”Satu lagi, risau saya menyimak bahwa pusat judi pun dikabarkan akan dibangun di Rempang. Entah betul entah tidak, tapi mana kementerian dan lembaga negara yang berpikir sampai ke sana?” tutur Reza.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore