JawaPos.com - Tindakan represif Polri yang menyeret secara paksa warga Air Bangis, Pasaman Barat yang tengah beristirahat di Masjid Raya Sumatera Barat (Sumbar) pada Sabtu (5/8) tengah menuai polemik. Sebab, tindakan aparat yang menggunakan seragam lengkap dan tak melepas sepatu itu dilakukan di dalam Masjid Raya Sumbar.
Namun, pihak pengurus masjid raya telah melakukan klarifikasi bahwa tindakan polisi terhadap warga Air Bangis terjadi di aula masjid, bukan ruang untuk salat.
Direktur LBH Padang Indira Suryani menegaskan, tindakan Polri itu sudah menyalahi aturan. Sebab, setiap masjid terdapat batas suci atau etika yang seharusnya dapat diati oleh setiap pihak, termasuk anggota kepolisian ketika memasuki area masjid.
"Nggak, ada batas suci itu. Jangankan itu ya, orang pakai baju pendek aja dilarang nggak boleh itu masuk, apalagi pakai sepatu, karena ada batas suci," kata Indira dihubungi JawaPos.com, Senin (7/8).
Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, termasuk Sumbar, lanjut Indira, aula masjid yang berada di lantai satu justru digunakan untuk ruang salat. Ia menyebut, terdapat sajadah di aula masjid, yang juga beberapa kali digunakan untuk ibadah.
"Bahkan ketika covid wilayah itu yang dijadikan untuk tempat salat, disitu kan ada sajadah juga, warga juga kemudian istirahat disitu ada yang salat disitu juga. Sudahlah pengurus masjid jangan ini ya (membela Polri), itu tetap kawasan Masjid Raya Sumbar dan jangan ada pembelaan apapun terhadap peristiwa-peristiwa itu," tegas Indira.
Sebab, tindakan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap warga dan anggota LBH Padang yang melakukan advokasi tidak menunjukan sikap manusiawi. Mereka ditangkap dan dipaksa pulang ke kampungnya.
"Didatangi sepertu itu nggak manusiawi tetap salah, walaupun Masjid Raya Sumbar dibiayai APBD. Kalau aku itu tetap salah, walaupun sajadah usang, tapi kan beberapa jamaah ada yang salat disitu," tukas Indira.
Sebelumnya, pengurus harian Masjid Raya Sumbar Yuzardi Ma'ad memberikan klarifikasi terkait beredarnya video aparat kepolisian yang mengenakan seragam lengkap ke area masjid. Ia menegaskan, polisi tidak masuk ke dalam ruang ibadah, melainkan hanya aula serbaguna masjid yang berada di lantai satu.
"Memang hari kemarin itu dipulangkan mereka, disediakan mobil-mobilnya, alhamdulillah dipulangkan. Tapi ada video dimasukan ke medsos aparat kepolisian masuk ke masjid pakai sepatu. Itu tidak benar, tempat yang dimasukin aparat kepolisian itu adalah aula masjid bukan tempat salat, kalau tempat salat di lantai dua," ucap Yuzardi, Minggu (6/8).
Yuzardi mengutarakan, warga Air Bangis yang melakukan aksi unjuk rasa memang menetap di aula Masjid Raya Sumbar, yang berada di lantai satu. Namun, aula masjid raya tidak digunakan untuk ibadah. Mereka menggunakan bekas karpet masjid yang sudah usang untuk beristirahat.
"Kalau ada yang masuk (ruang ibadah di lantai dua) saya menindak dia, nyawa saya, saya serahkan itu kan," ujar Yuzardi.
Para jamaah masjid, kata Yuzardi, memang mengeluhkan keberadaan massa aksi yang sudah menginap selama enam hari, sejak Senin (31/7) sampai dengan Sabtu (5/8). Sebab, keberadaan ribuan orang itu mengakibatkan tempat untuk berwudu masjid raya kotor. Hal ini karena terbatasnya ketersediaan kamar kecil, yang mengakibatkan para massa aksi itu buang air sembarangan.
"Ya, kalau satu dua hari tidak masalah. Kalau sudah lama seperti itu, karena tempat wudu tidak bersih lagi. Karena ada yang buang hajat, kalau dia buang hajat harusnya di tempatnya," tegas Yuzardi.
Oleh karena itu, Yuzardi mengaku pihaknya sempat meminta koordinator lapangan massa aksi untuk mencari tempat lain. Namun, permintaan itu tak diindahkan. Karena dirinya meminta bantuan aparat kepolisian dan Pemprov Sumbar agar aula masjid tidak bisa digunakan terus-menerus untuk menampung massa aksi.
"Mula-mula kita negosiasi ke koordinator untuk cari tempat lain tapi tidak mau. Sudah kita coba, ini masjid kalau seperti ini terganggu orang. Tapi koordinator tidak bisa cari tempt lain," ucap Yuzardi.
Yuzardi menekankan, aparat kepolisian tidak memasuki area tempat ibadah. Melainkan hanya aula serbaguna masjid. Sebab, saat peristiwa itu tejadi dirinya ikut melakukan pengawalan.
"Yabg paling penting, aparat yang masuk ke ruangan aula bukan ruangan salat, kalau ruang salat saya yang marah. Karena ruang salat saya yang jaga. Pada kejadian itu saya yang ngawal," pungkas Yuzardi.