
Perbedaan warna air laut di Selat Madura.
JawaPos.com - Banyak masyarakat yang masih penasaran dengan penampakan warna air laut di Selat Madura. Rabu sore (20/3), mereka masih tampak mendatangi kawasan jembatan Suramadu selepas kemunculan video viral di media sosial.
Ya, sebuah video yang direkam dari atas jembatan Suramadu menunjukkan perbedaan dua warna air laut. Yang satu hitam pekat, satu sisi lain lebih ke warna abu-abu.
Dari pantauan JawaPos.com, warga tampak mencoba melihat fenomena itu dari bawah jembatan sisi barat atau yang mengarah ke Madura. Namun karena lokasinya beberapa belas meter agak jauh ke arah Madura, warga tidak melihat terlalu jelas. Tak lama, banyak warga yang kembali ke pinggiran laut.
Salah satunya Ali Mustofa, 55, warga Tambak Wedi, Kenjeran. Dia mengaku mendengar kabar soal perbedaan warna air laut itu dari tetangganya. Hanya dia tidak berani melihat lebih dekat saat tahu lokasinya cukup jauh dari bibir pantai.
"Tapi memang tadi siang jam 12 itu, yang satu warna biru, satu lebih gelap. Tapi saya nggak berani ke pantai. Di sini saja sama anak," kata Ali kepada JawaPos.com di sekitar bibir pantai.
Sementara itu, Kasubdiv Humas BPWS Faisal Yasir Arifin mengatakan, fenomena itu sudah biasa terjadi. Penyebabnya adalah perbedaan kondisi air laut dari sisi barat dan sisi timur Suramadu.
Gejalanya, perbedaan kerapatan air, salinitas atau kadar garam berbeda, kekeruhan, dan perputaran air. Hanya saja sejak Selasa (19/3), garis perbedaannya lebih panjang. Sekitar 60 km ke arah Madura.
"Jadi ini fenomena halocline. Jadi semacam perbedaan warna air dari timur dan dari barat," kata Faisal.
Senada dengan itu, Prakirawan BMKG Pelabuhan Tanjung Perak Fajar Setiawan membenarkan soal halocline. Perbedaan warna itu bukan 100 persen air laut.
Warna hitam yang terlihat pada video itu diduga air dari sungai Kalimas. Hal itu menandakan bahwa aliran dan debit air Kalimas cukup tinggi.
Lantaran derasnya arus air dan debit yang tinggi, alirannya merembet hingga ke laut di sekitar Suramadu. Sedangkan aliran air lautnya sendiri lebih lambat karena faktor pasang surut.
"Itu biasa terjadi di Pelabuhan Tanjung Perak. Jadi yang satu air laut yang asin, ketemu air sungai yang tawar. Kemungkinan debit air dari sungai itu lebih tinggi dari biasanya," terang Fajar.
Fajar menegaskan, tidak ada yang perlu diwaspadai dari munculnya fenomena halocline. Fenomena itu hanya menandakan perubahan debit air sungai Kalimas dan pasang surutnya laut.
"Pasang surut (air laut) itu sendiri mengikuti pola bulanan. Tapi nggak ada yang perlu diwaspadai. Hanya mungkin karena debit air Kalimas sedang tinggi, karena faktor musim hujan," jelasnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
