
SEDIMENTASI: Pendangkalan, ditengarain oleh pertumbuhan eceng gondok yang telah memakan 75 persen wilayah Rawa Pening.
JawaPos.com - Di balik keindahannya, Danau Rawa Pening menyimpan setumpuk keprihatinan. Waduk alami seluas 2.667 hektare yang berlokasi di Ambarawa, Bawen, Tuntang dan Banyubiru Kabupaten Semarang itu, saat ini diintai sedimentasi. Belum lagi soal pertumbuhan eceng gondok tak terkendali dan pertanian yang memakan lahan danau.
“Sebelum tahun 1990, Rawa Pening ini memiliki kedalaman sekitar 15 meter. Saat ini, dengan luasan yang sama tersisa tiga meter saja akibat pendangkalan,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, Ruhban Ruzziyatno, Rabu (20/2).
Pendangkalan, ditengarain oleh pertumbuhan eceng gondok yang telah memakan 75 persen wilayah Rawa Pening. Kondisi ini adalah akibat adanya nutrisi berlebih pada air.
Tercatat, hingga 2018 kemarin, per tahunnya, terjadi pendangkalan setinggi 42 sentimeter. Selain karena adanya pertumbuhan eceng gondok yang tak terkontrol, juga karena faktor sampah yang berasal dari pabrik, rumah tangga, dan 14 anak sungai.
Rawa Pening sedianya memang memiliki potensi agrowisata memanjakan mata. Di satu sisi juga menjadi lahan pencaharian petani dan nelayan bagi warga sekitar. Masalahnya, semua kegiatan itu kerap mengabaikan faktor lingkungan sehingga berdampak negatif yang lama-kelamaan mulai kelihatan efeknya.
Di Rawa Pening, terdapat masalah penggunaan lahan pertanian pasang surut waduk. Berdasarkan data dari Dinas Pengelola Sumber Daya Air Mineral (PSDA) Jawa Tengah, tercatat seluas 812 hektare sawah yang terletak di atas patok hitam dari peil +461,90 meter sampai +462,90 meter. Setahun mengalami dua kali masa panen.
Kemudian, sawah yang terletak antara patok merah dan patok hitam, yaitu pada elevasi +461,65 meter sampai +461,90 meter dengan luas 200 hektar. Dengan masa panen, setahun satu kali.
Dampak keuntungan pemanfaatan Rawa Pening ini jika dihitung-hitung, sangat tidak sebanding dengan kerugian yang diperoleh masyarakat sekitar maupun pemerintah. Jika dalam waktu dekat nihil penanganan serius, Rawa Pening terancam punah.
Penurunan kapasitas tampungan air akibat proses sedimentasi mengakibatkan dampak penurunan fungsi dan daya guna waduk. Rawa Pening bahkan sudah masuk ke dalam daftar 15 danau kritis di Indonesia.
“Rawa Pening itu mulanya berbentuk menyerupai mangkuk. Sekarang ini menyusut seperti piring. Hal itu mengakibatkan, kehilangan air sebanyak 15 juta kubik air setiap tiga bulan. Ini bisa tiga kali lipat dari Waduk Jatibarang,” kata Ruhban lagi.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui BBWS selama ini sudah melakukan penanganan masalah pertumbuhan eceng gondok. Selain itu juga dilakukan pengerukan di sana. Saat ini, pertemuan lintas sektor tengah dilangsungkan di Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah, Wisma Puri Gedeh untuk membahas langkah nyata upaya konservasi Rawa Pening.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
