
Sukiyanto (berdiri), di tengah-tengah karyawannya yang sibuk mengupas kulit singkong.
Sukiyanto, 56, pernah menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Brunei Darussalam. Pengalaman hidup menempanya menjadi sosok pekerja keras. Sepulang dari perantauan, kini dia sukses mengembangkan usaha keripik singkong dengan mempekerjakan 30 perempuan eks Tenaga Kerja Wanita (TKW).
Dian Ayu Antika Hapsari, Malang
JawaPos.com- Belasan perempuan beragam usia sibuk mengupas umbi singkong. Pada bagian lain, tampak para lelaki mengeluarkan umbi-umbian tersebut. Dengan cekatan, ibu-ibu itu membersihkan umbi-umbian, lalu dipisahkan. Kesibukan seperti itu menjadi rutinitas sehari-hari di pabrik produksi keripik singkong yang ada di Desa Arjowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang.
Usai umbi dibersihkan dari kulit cokelatnya, ada kelompok lain yang mencucinya hingga bersih. Proses tidak berhenti sampai di sana. Ada lagi para lelaki usia muda yang kebagian tugas menipiskan singkong-singkong itu dengan alat khusus.
Selanjutnya, singkong-singkong tipis itu dibawa ke tempat penggorengan. Di pabrik kripik singkong dengan kategori Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ini terdapat enam tungku penggorengan dengan wajan super besar. Diameter wajan itu ditaksir mencapai satu meter.
Keripik singkong mentah itu kemudian digoreng di wajan bertungku tradisional. Tungkunya memang jadul. Perapiannya masih memakai kayu bakar.
Di dekat wajan itu, enam orang laki-laki kekar megaduk kepingan keripik. Guratan urat terpampang jelas di lengan-lengan para lelaki berotot tersebut. Tuntas menggoreng, keripik itu lalu ditiriskan dan dicampur bawang putih serta cabai hingga merata.
Semua proses produksi itu diawasi langsung oleh Sukiyanto. Pemilik pabrik itu memberi label keripik singkongnya dengan merek Kenanga. Nama Kenanga sudah ada sejak 2004, sejak Sukiyanto mengadu nasib di Ibu Kota. Sejak 1980 hingga 2004, Sukiyanto berjualan keripik tempe di Jakarta.
"Dinamakan keripik Kenanga karena lahirnya di Jalan Kenanga, Jakarta," kata Sukiyanto kepada JawaPos.com, Selasa (18/12).
Jauh sebelum berwirausaham Sukiyanto sempat merantau ke Brunei Darussalam. Selama menjadi TKI, dia banyak belajar cara bekerja secara cepat dan menguntungkan di negeri orang.
Ketika pulang, dia mencoba untuk menerapkan ilmu yang didapatkan. Prinsipnya, yang terpenting adalah cara bekerja dengan cepat.
"Setelah di Brunei, saya pulang. Ternyata istri saya mimpi menanam kedelai tumbuh singkong. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat usaha kripik singkong," bebernya.
Selama tahun 2004 dia memproduksi keripik singkong di Jakarta. Hingga akhirnya tahun 2007, dia hijrah ke Arjowilangun, Kalipare, Kabupaten Malang.
Pada tahun itu, dia semakin mengembangkan usaha keripik singkong. Hingga saat ini, bisnis yang dirintisnya itu sukses mempekerjakan sekitar 30 orang mantan Tenaga Kerja Asing (TKA).
Jatuh bangun dia rasakan. Merugi puluhan juta sekali kirim, juga semacam menjadi makanan sehari-hari. Namun, dia beruntung karena sekarang terbantu dengan kredit usaha rakyat (KUR) yang bunganya 7 persen.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
Jadwal PSS vs Garudayaksa FC Final Liga 2, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Siapa Raih Trofi Kasta Kedua?
Hasil Play-off Liga 2: Adhyaksa FC Bungkam Persipura Jayapura 0-1 di Babak Pertama!
Jadwal Veda Ega Pratama di Sesi Q2 Moto3 Le Mans 2026! Rider Indonesia Bidik Start Terdepan
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
