Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 23 Juli 2017 | 08.35 WIB

Sewa Rumah, Biaya Termahal untuk Hidup di Batam

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Bagi keluarga yang hidup di daerah kepulauan seperti Kota Batam, maka sudah barang tentu biaya hidupnya cukup tinggi. Apalagi bagi keluarga yang belum memiliki, tentunya  mereka harus menyewa atau mengontrak.


Berdasar data survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau, bahwa sewa rumah dan angkutan udara menjadi penyumbang tertinggi pengeluaran konsumsi rumah tangga di Batam.


"Bobotnya sewa rumah 7,3 persen dari total pengeluaran rumah tangga. Sementara untuk angkutan udara sebesar 4,6 persen," ujar Kepala BPS Kepri, Panusunan Siregar, seperti yang dilansir Batam Pos (Jawa Pos Group).


Setelah biaya sewa rumah dan angkutan udara, biaya lainnya yang cukup tinggi dalam sebuah rumah tangga di Batam yakni bahan bakar minyak (BBM) berupa bensin atau sejenisnya, nasi dengan lauk, angkutan dalam kota.


Kemudian termasuk pula tarif pulsa ponsel, rokok kretek filter, tukang bukan mandor, mobil, daging ayam ras, upah pembantu, kontrak rumah, biaya sekolah dasar, tarif air minum ATB, rokok putih, emas perhiasan, rokok kretek dan mie.


Panusunan menambahkan, urutan 20 besar penyumbang tertinggi pengeluaran konsumsi rumah tangga ini merupakan survei BPS 2012-2017. Secara absolut (nilai) kondisi ini sudah pasti berbeda jauh dengan sekarang. Namun secara reaktif (persentase) tidak akan jauh berbeda.


Dia mengakui survei pengeluaran konsumsi kota dan biaya hidup kota berlaku selama lima tahun. "Karena tahun ini jadwalnya adalah mengupdate angka 2012. Tapi karena kita melaksanakan sensus ekonomi lanjutan. Maka minta undur sampai tahun 2018," jelasnya.


Sebelumnya, biaya hidup di Batam termasuk salah satu paling tinggi di Indonesia. Batam menepati urutan kelima, dimana satu keluarga, membutuhkan uang Rp 6,3 juta per bulannya.


Sebagai daerah kepulauan, semua bahan logistik dibawa melalui jalur laut ke Batam. Hal ini tentu saja mempengaruhi pada harga yang dibayarkan masyarakat. Selain itu, hampir 95 persen kebutuhan masyarakat Batam didatangkan dari luar daerah dan Batam bukanlah daerah penghasil.


"Prediksi kita masih kategori tinggi. Itu makanya upah minimum kota (UMK) di Batam termasuk tinggi. Karena disesuaikan dengan biaya hidup yang juga tergolong tinggi," pungkasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore