
KOLABORASI: Performing sejumlah kelompok seni Reog berjalan menuju lokasi puncak acara tradisi Mondosiyo, Selasa (21/11).
JawaPos.com - Di Dusun Pancot, Kalisoro, Tawangmangu, Karanganyar ada sebuah tradisi unik. Tradisi itu bernama Mondosiyo. Gelaran itu rutin setiap tujuh bulan sekali, tepatnya setiap Selasa Kliwon Wuku Mondosiyo. Dan tepat pada Selasa (21/11), ratusan warga menggelar tradisi itu.
Ada beberapa prosesi yang digelar pada tradisi itu. Pertama adalah performing kelompok seni reog. Kelompok yang ikut tidak hanya dari Karanganyar. Namun, ada juga yang dari Ponorogo, Solo, dan beberapa kota lain. Mereka sengaja hadir untuk memeriahkan gelaran itu.
Kelompok-kelompok reog itu berjalan mulai dari pintu masuk dusun sampai ke lokasi. Jarak yang ditempuh ini lebih dari 200 meter. Mereka tidak hanya berjalan, tetapi sembari menampilkan tarian dan musiknya yang khas.
Setibanya di tempat acara para kelompok reog itu pun sejenak melepas lelahnya. Di tempat puncak acara ini ada sebuah bangunan kecil yang diberi nama cungkup watu gilang. Cungkup ini digunakan untuk menyimpan air badeg atau air tape yang sudah disiapkan tujuh bulan sebelumnya.
Sebelum puncak acara digelar, air badeg ini disiramkan kepada warga. Karena mempunyai sifat lengket, para warga pun menghindar.
''Tradisi ini adalah tradisi leluhur yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Ini untuk mengingat kembali sejarah lahirnya desa ini,'' terang Ketua Panitia yang juga sesepuh dusun, Sulardi, kepada JawaPos.com, Selasa (21/11).
Sulardi menambahkan, bahwa dahulu ada raksasa yang hobinya memangsa anak bernama Prabu Boko. Dan suatu saat terjadi petarungan dengan Pangeran Tetuko. Dan Prabu Boko berhasil dibinasakan. ''Dan keadaan desa menjadi aman, dan tradisi ini mengingat kembali peristiwa itu,'' tambah Sulardi.
Puncak acara dari tradisi Mondosiyo adalah pelepasan ayam. Ayam-ayam ini adalah milik warga yang sebelumnya memiliki nazar. ''Mereka biasanya bernazar kalau keinginannya tercapai akan melepaskan ayam,'' ungkap Sulardi.
Salah satu warga yang turut melepaskan ayam adalah Suyatmi,63, warga Pancot. Sebelumnya, Suyatmi sudah bernazar jika sembuh dari sakit akan melepaskan ayam saat tradisi Mondosiyo.
''Dulu saya sakit gula, tetapi sekarang sudah sembuh. Dan sesuai nazar saya saya melepaskan dua ekor ayam,'' katanya. Suyatmi berharap dengan memenuhi nazar ini ia tidak lagi menderita sakit.
Dan acara puncak digelar sekitar pukul 17.00 WIB. Satu persatu warga yang memiliki nazar melepaskan ayamnya ke atas bangunan yang disebut badegan. Bangunan ini memiliki tiga pintu masuk dan. Beratap seng.
Sontak saja, ratusan warga yang sudah lama menunggu langsung berebut. Ada yang sampai memukul-mukul atap agar ayam turun. Selain itu, ada juga yang menggunakan tiang untuk umbul-umbul agar ayam tidak lari jauh.
Dalam rebutan ayam ini ada satu aturan yang harus dipatuhi, yakni warga tidak boleh menangkap ayam dengan naik ke atas genting. Ada yang percaya jika mendapatkan ayam ini akan berkah.

14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Korban Dicekoki Miras Hingga Tak Sadar, Pelaku Pemerkosaan Cipondoh Masih Dicari
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
