
Petani bawang merah di Nagari Sungai Nanam, Kabupaten Solok, Sumbar saat melakukan panen.
JawaPos.com - Tingginya intensitas hujan yang terjadi di kawasan Sumatera Barat (Sumbar) sepanjang tahun 2017 dianggap sebagai pemicu rendahnya produktivitas komoditas bawang merah. Alhasil, hasil produksi total bawang merah di Sumbar jauh di bawah target yang dicanangkan.
Dari catatan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar produksi bawang merah sepanjang tahun 2017 mencapai 96,045 ton. Jumlah tersebut tidak sampai separuh dari target yang ditetapkan sebesar 200 ribu ton.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar Maswal Nor mengatakan, faktor utama penyebab anjloknya produksi bawang merah di Sumbar adalah kondisi cuaca yang cukup ekstrim. Curah hujan dengan intensitas sedang dan tinggi yang hampir terjadi setiap pekan di tahun 2017.
"Curah hujan tinggi menurunkan produksi bawang," kata Maswal Nor, Senin (26/3).
Dijelaskannya, produksi bawang merah sendiri tersebar di sejumlah daerah Sumbar. Diantaranya, Kabupaten Solok sebagai penyumbang terbanyak dengan angka 82.677 ton/tahun. Selanjutnya Kabupaten Agam dengan produksi 4.970 ton. Ada juga Solok Selatan dengan angka 4.586 ton; Kabupaten Tanah Datar sebanyak 1.957 ton dan Limapuluh Kota sebanyak 592 ton/tahun.
Kemudian Kota Payakumbuh yang menghasilkan 487 ton, Kabupaten Pesisir Selatan 472 ton, Kota Bukittinggi 68 ton, dan Kabupaten Padang Pariaman 66,2 ton per tahun. Sedangkan luas tanaman bawang di semua daerah itu mencapai 9.749 hektare dengan luas panennya 9 ribu hektare.
Dikatakannya, memasuki bulan pertama dan kedua tahun 2018 cuaca hujan masih menyelimuti beberapa daerah. Termasuk kawasan peladangan bawang. "Kita sudah siapkan beberapa langkah untuk mengantisipasi kondisi serupa tahun lalu. Agar produksi bawang merah tidak lagi meleset dari target," katanya.
Langkah yang disiapkan Pemprov Sumbar antara lain, dengan menyalurkan bantuan bibit pada petani dan menggencarkan pelatihan. Bantuan juga diberikan berupa sarana produksi baik prapanen maupun pasca panen.
"Kami juga melakukan pembinaan dan memotivasi petani melalui lomba dan pemberian penghargaan," katanya.
Lebih lanjut Maswal Nor mengatakan, Pemprov Sumbar menargetkan produksi bawang merah bisa di distribusikan ke daerah lain. Dengan catatan, pasokan di dalam provinsi terpenuhi terlebih dahulu. Gubernur Sumbar juga telah menandatangani kesepakatan tentang kerja sama dagang bawang merah dengan Gubernur Riau.
"Mudah-mudahan, hal itu dapat terealisasi tahun 2018 ini," katanya.
Sebelumnya, untuk mendukung produksi bawang merah di Sumbar, Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan kawasan perbenihan dan bioindustri bawang merah di Nagari (Desa) Sungai Nanam, Kabupaten Solok.
Kementan juga mengenalkan teknologi pengeringan yang canggih. Bila proses pengeringan tradisional memakan waktu 15-20 hari, maka alat instore dryer mampu menampung hingga 14 ton bawang merah hanya membutuhkan 5 hari untuk proses pengeringan.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
