
Ilustrasi susu kental manis. (istimewa)
JawaPos.com - Prevalensi stunting di Maluku Utara masih menjadi perhatian serius. Angkanya mencapai 23,3 persen atau masih berada di atas prevalensi nasional. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Provinsi Maluku Utara memperkuat edukasi kepada keluarga tentang pentingnya pemenuhan gizi anak, termasuk meluruskan anggapan bahwa susu kental manis dapat diberikan sebagai pengganti susu untuk anak dan balita.
Upaya edukasi tersebut dilakukan bersama berbagai pihak, salah satunya Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU dan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI). Edukasi tidak hanya menyasar masyarakat secara umum, tetapi juga diperkuat melalui jaringan kader yang berada hingga tingkat komunitas.
Lebih dari 200 kader mendapatkan edukasi tentang gizi anak dan risiko penggunaan kental manis sebagai pengganti susu. Dengan adanya edukasi ini, para kader diharapkan dapat meneruskan informasi yang diperoleh kepada keluarga, lingkungan sekitar, serta masyarakat di daerahnya masing-masing.
Wakil Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU dr Erna Yulia Soefihara mengatakan, pendekatan berbasis komunitas menjadi penting karena edukasi mengenai gizi akan lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh orang yang memiliki kedekatan dengan masyarakat.
Menurut Erna, jaringan majelis taklim dan para ustazah dapat menjadi salah satu kekuatan dalam menyampaikan pesan kesehatan dan gizi. Kedekatan tersebut memungkinkan informasi disampaikan secara personal dan tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan formal.
“Intinya adalah pendekatan personal, pendekatan dari hati ke hati. Seorang ustazah pasti akan lebih dekat dengan jemaahnya,” ujar Erna dalam keterangan tertulis.
Persoalan pemberian susu kental manis kepada anak juga coba ditelusuri langsung melalui kunjungan rumah. PP Muslimat NU bersama YAICI mendatangi sejumlah keluarga di Kecamatan Kota Baru, Ternate, untuk mengetahui alasan di balik keputusan orang tua menggunakan produk kental manis sebagai pengganti susu.
Sekretaris Jenderal YAICI Satria Yudistira mengatakan, salah satu alasan yang ditemukan adalah ibu mengalami kendala dalam memberikan ASI. Ketika ASI tidak keluar atau pemberian ASI menghadapi hambatan, sebagian orang tua kemudian mencari alternatif yang dianggap mudah diperoleh.
“Selain karena kesulitan memberikan ASI, orang tua beralih ke produk kental manis karena harganya dianggap lebih ekonomis,” jelas Satria.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Levante vs Real Betis di Liga Spanyol 2026/2027: Tim Tamu Bisa Curi 3 Poin!
Prediksi Skor Tottenham Hotspur vs Newcastle di Liga Inggris 2026/2027: Sengit, Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Coventry City vs Hull City di Liga Inggris 2026/2027: Bisa Berakhir Imbang!
Prediksi Susunan Pemain Sevilla vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor AZ Alkmaar vs Go Ahead Eagles di Liga Belanda 2026/2027: Kans Tuan Rumah Pesta Gol!
Prediksi Skor Monaco vs Marseille di Liga Prancis: Les Phoceens Tak Ingin Malu di Stade Louis II
Prediksi Skor Bournemouth vs Everton di Liga Inggris 2026/2027: Berpotensi Imbang!
Prediksi Skor Real Sociedad vs Espanyol: Los Periquitos Bisa Curi Poin di Anoeta?
Prediksi Skor Leeds United vs Brentford: The Bees Siap Sengat Tuan Rumah di Elland Road!
