
Ilustrasi: Salah satu bangunan Koperasi Merah Putih. (Dok. Radar Solo)
JawaPos.com – Dalam praktik bisnis konvensional, lokasi merupakan faktor kunci yang menentukan keberhasilan usaha. Aksesibilitas, visibilitas, hingga kedekatan dengan pasar menjadi pertimbangan utama. Namun, pendekatan tersebut tampaknya tidak sepenuhnya berlaku dalam pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP).
Di lapangan, prioritas utama pembangunan KDMP justru bukan pada lokasi strategis, melainkan pada ketersediaan lahan, khususnya tanah kas desa atau tanah bengkok. Artinya, selama lahan tersedia dan memenuhi syarat administratif, pembangunan tetap dilakukan, terlepas dari apakah lokasi tersebut layak secara bisnis atau tidak.
Bahkan, dalam sejumlah kasus, gerai KDMP tetap dibangun di lokasi yang jauh dari permukiman atau pusat aktivitas ekonomi warga. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: bagaimana prospek bisnis koperasi jika aspek strategis lokasi diabaikan?
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, dan Perdagangan (Diskopumdag) Tuban, Gunadi, membenarkan bahwa ketersediaan lahan menjadi faktor utama dalam pembangunan KDMP.
“Ada beberapa kriteria yang disyaratkan untuk pembangunan gerai KDMP. Di antaranya ketersediaan lahan dengan ukuran 20x30 meter, kejelasan aset, dan lokasi strategis. Tapi yang menjadi prioritas tetap aset atau tanah kas desa,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa aspek strategis memang hanya menjadi pertimbangan sekunder. Dalam praktiknya, ketika desa tidak memiliki alternatif lahan yang lebih representatif, maka lokasi yang ada tetap digunakan tanpa banyak ruang untuk negosiasi.
Ironisnya, pemerintah daerah juga tidak memiliki kewenangan penuh untuk menilai kelayakan lokasi dari sisi bisnis. Gunadi menegaskan bahwa proses verifikasi dilakukan langsung oleh pemerintah pusat melalui PT Agrinas Pangan Nusantara.
“Yang memverifikasi langsung dari Agrinas,” katanya.
Kondisi ini memperlihatkan adanya sentralisasi keputusan, di mana pemerintah daerah hanya berperan sebagai fasilitator tanpa ruang evaluasi yang memadai terhadap potensi ekonomi lokal.
Di sisi lain, pendekatan ini berpotensi menimbulkan risiko jangka panjang. Tanpa lokasi yang strategis, koperasi berpotensi kesulitan menarik konsumen, menghambat perputaran barang, hingga berujung pada rendahnya produktivitas usaha.

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
