
Ledakan dan kobaran api terlihat setelah militer Israel menyerang sejumlah kompleks penyimpanan bahan bakar di Teheran, Iran, Sabtu (7/3). (The New York Times)
JawaPos.com - Di tengah konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang kian memanas, kondisi warga nega indonesia (WNI) yang tinggal maupun bekerja di kawasan Timur Tengah menjadi sorotan.
Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) mencatat ada 7.000 Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jawa Timur yang berada di kawasan Timur Tengah dalam lima tahun terakhir.
“Dari Sistem Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI), myoritas Arab Saudi hingga mencapai angka 3.994 PMI,” ucap Kepala BP3MI Jawa Timur, Gimbar Ombai Helawarnana Senin (9/3).
Secara spesifik, tak ada PMI legal asal Jatim yang bersda di Iran maupun Israel selama 5 tahun terakhir. Sementara penempatan di negara tetangga, seperti Lebanon hanya 1 orang, sedangkan Yordania 13 orang.
“Jika spesifik bicara negara-negara di atas terbilang penempatannya jarang, tidak tercatat (PMI legal asal Jawa Timur yang) penempatannya ke negara Israel maupun Iran selama 5 tahun terakhir," imbuhnya.
Namun, Gimbar menegaskan bahwa data BP3MI hanya mencatat pekerja yang berangkat melalui jalur resmi. Pemerintah tidak memiliki catatan tentang PMI yang bekerja secara ilegal di negara-negara konflik atau di luar jalur resmi.
Selain Arab Saudi, negara yang menampung PMI Jatim adalah Turki dengan 958 orang, dan Qatar dengan 638 orang. Jumlah ini menunjukkan sebagian besar pekerja tetap berada di wilayah Timur Tengah yang relatif aman.
Untuk memastikan komunikasi tetap lancar, pemerintah menyiapkan layanan hotline 24 jam. PMI bisa melapor atau mengadu melalui nomor resmi, baik yang legal maupun yang bekerja di luar jalur resmi.
“KP2MI sendiri memiliki hotline 24 jam yang dapat dihubungi PMI yang berada di luar negeri melalui nomor 02129244800 dan kami melayani penerimaan pengaduan baik dari PMI legal maupun illegal,” terang Gimbar.
Pemerintah juga membentuk tim khusus untuk memantau situasi geopolitik. Jika konflik meluas, ada skenario evakuasi dan perlindungan bagi PMI yang terdampak, termasuk repatriasi melalui Bandara Juanda.
“KP2MI telah menyiapkan berbagai skenario dan kemungkinan yang dapat terjadi, mengingat konflik yang masih dapat mengalami esklasi, termasuk dalam hal evakuasi Pekerja Migran Indonesia,” tegasnya.
BP3MI Jawa Timur siap membantu kepulangan PMI hingga ke daerah asal. Jika pekerja migran pulang dalam kondisi tertekan atau mengalami gangguan kesehatan, pemerintah daerah akan menyiapkan rehabilitasi fisik maupun psikologis.
