
Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin usai melakukan ziarah ke kompleks makam Syekh Mahmud di Papan Tinggi, Barus, Tapanuli Tengah, Selasa malam (21/10). (Muhammad Ridwan/JawaPos.com)
JawaPos.com - Menjelang puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin melakukan ziarah ke kompleks makam Syekh Mahmud di Papan Tinggi, Barus, Tapanuli Tengah, Selasa malam (21/10).
Syekh Mahmud dikenal sebagai salah satu ulama besar penyebar Islam pertama di Nusantara. Makam Syekh Mahmud terletak di atas bukit yang berlokasi di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Barus sendiri diyakini sebagai titik nol peradaban Islam di Nusantara, tempat awal berkembangnya ajaran Islam sebelum menyebar ke seluruh wilayah Indonesia.
Menurutnya, peringatan Hari Santri tahun ini memiliki makna istimewa, karena dimulai dari tempat bersejarah yang menjadi akar penyebaran Islam dan tradisi pesantren di Indonesia.
“Hari Santri kali ini kita mulai dari titik nol, di mana dari situlah ajaran, doktrin, dan nilai menjadi sistem kehidupan sosial-keagamaan, menjadi sistem pendidikan, menjadi kekuatan pesantren dan masyarakat sekitarnya, menjadi komunitas santri,” kata Cak Imin di sela ziarah.
Ia menegaskan, perjalanan panjang santri dalam sejarah bangsa tidak terlepas dari peran besar ulama dan pesantren yang telah melahirkan kekuatan sosial dan spiritual luar biasa.
“Akhirnya setelah kemerdekaan, di bawah kepemimpinan para ulama, khususnya fatwa Mbah Hasyim Asy’ary, dilakukanlah Resolusi Jihad. Sehingga umat Islam percaya diri, yakin, meski tanpa senjata yang memadai, bisa mengusir penjajah,” ungkapnya.
Ia menegaskan, keberanian dan semangat perjuangan para santri menjadi energi besar bagi bangsa Indonesia.
“Keberanian untuk syahid mengusir penjajah itulah yang membuat energi luar biasa, dengan bambu runcing, dengan pertempuran apa adanya, dengan pengorbanan nyawa dan keberanian, yang membuat Indonesia bertahan dan akhirnya merdeka,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ketua Umum DPP PKB itu menekankan, semangat perjuangan tersebut yang kemudian melahirkan momentum bersejarah penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.
“Semangat itulah yang akhirnya menjadi momentum ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri, di mana embrio pertempuran 22 Oktober itu akhirnya menang di 5 November, yang kemudian kita kenal sebagai Hari Pahlawan Nasional,” pungkasnya.

Bentrok Maut Tambak Matraman, Satu Orang Tewas, Motor hingga Rumah Semi Permanen Dibakar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kronologi Tewasnya Satpam Jatiluhur Purwakarta: Rekam Vandalisme hingga Tewas Terborgol
Donald Trump Terjebak! Perang Iran Seret Presiden AS ke Krisis Politik dan Militer
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Profil Mitchell Baker: Striker Naturalisasi Timnas Indonesia Berdarah Yogyakarta, Debut Gemilang di Piala AFF 2026
Profil Aripat, Suami Nathalie Holscher: Dari Sales hingga Menjadi Pengusaha
Profil Santyka Fauziah, Kekasih Sule yang Didoakan Nathalie Holscher Segera Menikah
Profil Ikhwan Ali Tanamal: Winger Baru Persib Bandung Menyala di Piala Presiden 2026, Wonderkid Tulehu Dikontrak hingga 2028
Sempat ‘Hilang’ dari Bangku Cadangan saat Timnas Indonesia Gulung Kamboja, John Herdman Ungkap Alasannya
