
Harimau Sumatera terlihat di jalan lintas barat Tanggamus-Krui Pesisir Barat. (ANTARA/Dokumen pribadi/am)
JawaPos.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat (Sumbar) mengkonfirmasi keberadaan 2 harimau sumatera yang dilaporkan berkeliaran di Jalur Penghubung Bukittinggi-Medan. Dikutip dari pemberitaan Padang Ekspres pada Kamis (16/10), BKSDA Sumbar menyatakan telah bergerak untuk merespons aduan warga yang merasa resah.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa warga melihat 2 harimau sumatera melintas di Jalur Penghubung Bukittinggi-Medan. Kesaksian itu disampaikan oleh beberapa pengendara dan warga yang berada di ladang. Kepala Resor Konservasi Wilayah II Maninjau Ade Putra menyampaikan bahwa pihaknya sudah melakukan verifikasi lapangan.
”Tim gabungan langsung melakukan verifikasi lapangan, wawancara saksi, dan menemukan sejumlah tanda keberadaan harimau di sekitar lokasi,” ungkap Ade Putra.
Menurut Ade, tim yang dikirim berasal dari beberapa instansi. Yakni BKSDA Sumbar, Centre for Orangutan Protection (COP), Tim Pagari Anak Nagari, serta mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Riau (UNRI). Mereka sudah melakukan patroli malam selama tiga hari berturut-turut, memasang kamera jebak, dan memastikan tidak ada warga yang menjadi korban.
Informasi yang diterima oleh BKSAD Sumbar, 2 ekor harimau sumatera itu pertama kali tampak pada Sabtu sore (11/10). Sejumlah warga sempat merekam momen munculnya 2 ekor satwa dilindungi tersebut menggunakan telepon genggam. Pada Minggu dini hari (12/10), pengendara yang melintas di Jalan Lintas Sumatera juga melihat 2 ekor harimau berjalan santai di tengah jalan sekitar pukul 00.30 WIB.
”Saat kami verifikasi di lapangan, sempat terlihat sosok harimau di tepian hutan. satwa itu segera menjauh ketika kami dekati,” ungkap Ade.
Pihak BKSDA Sumbar menduga 2 ekor satwa tersebut merupakan pasangan induk yang tengah melintas di koridor habitat alami harimau sumatera. Namun, intensitas aktivitas manusia yang tinggi di jalur tersebut memicu interaksi yang tidak diinginkan antara satwa dengan warga.
BKSDA Sumbar mencatat, peningkatan kasus interaksi satwa liar dengan manusia seringkali disebabkan oleh fragmentasi hutan dan alih fungsi lahan yang membuat satwa kehilangan sumber pakan alami. Ade menyebut, harimau sumatera tidak akan keluar dan menyerang tanpa sebab.
”Harimau tidak menyerang tanpa sebab. Mereka keluar karena terdesak. Konflik ini menjadi alarm bagi kita semua untuk lebih memperhatikan tata kelola ruang yang ramah satwa,” ujarnya.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
