Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 15 September 2025 | 04.38 WIB

Kasus Korupsi Kuota Haji dan Datangnya Peter Berkowitz Bikin Resah Kalangan NU, Dianggap Mencederai Warga

Jemaah haji Indonesia saat memasuki area Jamarat di Mina untuk lempar jumrah Aqabah, Jumat (6/6). (MCH 2025) - Image

Jemaah haji Indonesia saat memasuki area Jamarat di Mina untuk lempar jumrah Aqabah, Jumat (6/6). (MCH 2025)

 
JawaPos.com - Kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dibuat resah atas dua skandal yang terjadi baru-baru ini. Keduanya yakni korupsi kuota haji 2024 dan datangnya Peter Berkowitz, tokoh pro zionis ke Indonesia dan menyampaikan kuliah umum.
 
Musytasyar PWNU Jogjakarta, Asyhari Abdullah Tamrin merasa resah atas dua peristiwa tersebut. Dia mengklaim perasaan serupa dialami oleh banyak kiai pesantren, pengurus NU, para ustadz yang berkhidmat di NU dan Nahdliyyin di kampung-kampung.
 
“Zionisme yang menyusup kedalam tubuh jam’iyyah, bisa dideteksi dengan mata hati (ainul bashirah) dari perubahan-perubahan gagasan, sikap dan perilaku berjam’iyyah dari orang-orang yang menganutnya,” kata Kiai Asyhari, Minggu (14/8).
 
Mantan Rais Syuriyah PWNU Jogjakarta mengatakan, penyusupan paham zionis memiliki dampak buruk. Terlebih bila sampai mengubah watak seseorang.
 
 
Oleh karena itu, paham zionis harus ditentang keras. Apalagi bila berusaha masuk ke dalam ormas keagamaan.
 
“Saya kaget membaca fakta-fakta disertai dokumen itu. Ini, bisa menjadi musibah besar bagi NU saat ini dan ke depan. Terlebih NU dikenal luas dan menjadi rujukan bagi muslim di seluruh dunia. Bisa meruntuhkan muruah jam’iyyah,” ungkap Kiai Asyhari.
 
Dia menegaskan tentang marwah jam’iyyah NU sebagai ciri khas atau karakter yang dicerminkan dari keluhuran nilai yang diyakini, kemuliaan sikap yang ditunjukkan, perilaku baik yang dilakukan dan konsistensinya pada Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah. NU teguh berpedoman pada salafus sholihin, namun adaptif terhadap perubahan jaman.
 
Dia mengutip bait syair dalam kitab Irsyadul Fuhul karya Assyaukani, “yahuwnu ‘alaina an tushoba jusumuna wa taslima a’rodlun lana wa ‘uquulu”. Bait ini memiliki arti "akan lebih mudah bagi kita jika tubuh kita terluka, tetapi kehormatan dan akal kita terjaga".
 
Menurutnya, NU bagaikan manusia dengan pikiran normal, mental dan hatinya masih bisa memiliki kepercayaan diri, meski dengan kesederhanaan, kendala dan keterbatasan dalam berorganisasi.
 
Baginya, menjaga harga diri dan kehormatan adalah bagian dari tujuan syariat, sebagaimana Imam Ibnu Subki mengelompokannya kedalam tujuan syariah yang bersifat primer (dloruri), selain perlindungan terhadap agama, jiwa, harta benda, keturunan dan akal.  
 
“Tidak hanya tercela dan menciderai seluruh warga NU. Perbuatan itu, menjungkir balik keadilan yang semestinya tegak, dirasakan oleh ribuan jemaah haji yang antre puluhan tahun untuk berangkat ke tanah suci,” tandasnya.
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore