Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 22 Juni 2025 | 17.17 WIB

Ambil Kebijakan Pembersihan Aliran Sungai hingga Tutup Tambang, Dedi Mulyadi: untuk Masa Depan Jawa Barat

Tim gabungan lakukan proses pencarian dan evakuasi terhadap pekerja yang tertimbun longsor tambang galian C di Argasunya Cirebon, Rabu (18/6). (Fathnur Rohman/Antara) - Image

Tim gabungan lakukan proses pencarian dan evakuasi terhadap pekerja yang tertimbun longsor tambang galian C di Argasunya Cirebon, Rabu (18/6). (Fathnur Rohman/Antara)

JawaPos.com - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membahas kebijakannya mengenai pembersihan daerah aliran sungai, membongkar sejumlah bangunan, serta menutup tambang ilegal di wilayah Jabar. Dia menegaskan bahwa apa yang dilakukan selalu memiliki tujuan. 

Seperti diketahui, Dedi Mulyadi memang sempat menertibkan bangunan liar, khususnya yang berada di sekitar bantaran sungai.

Bahkan, eks Bupati Purwakarta ini juga sempat melakukan penutupan terhadap tambang ilegal dan tambang yang melanggar meskipun telah memiliki izin.

Tentunya, langkah tersebut menuai banyak tanggapan. Ada pihak yang mendukung, dan terdapat pula yang kontra dengan kebijakan Dedi.

"Saya sampaikan ya, bahwa kebijakan-kebijakan saya mengenai pembersihan daerah-daerah aliran sungai membongkar bangunan itu semuanya untuk kepentingan masa depan," kata Dedi, dikutip dari akun Instagram @dedimulyadi71, Minggu (22/6).

Namun, Dedi menjelaskan bahwa dia selalu memberikan solusi terhadap setiap kebijakan yang dilakukannya. 

“Solusinya kalau jumlahnya hanya puluhan saya bisa cepat memberikan pembiayaan karena itu berasal dari uang yang saya miliki," jelas Dedi Mulyadi.

Hanya saja, jika jumlahnya ratusan, Dedi akan mencari mitra untuk memberikan bantuan dari BJB Peduli serta Baznas Provinsi Jawa Barat. Tujuannya untuk meringankan warga yang mengalami perubahan pola hidup dari bantaran sungai ke tempat kontrakan.

Tak hanya mengenai kebijakan pembongkaran bangunan di bantaran sungai, pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi atau KDM ini juga berbicara mengenai kebijakannya dalam penutupan tambang di Jawa Barat.

"Banyak juga yang berteriak-teriak bahwa penutupan tambang menimbulkan pengangguran, kami menderita. Lupa ya, tambang ilegal itu merusak jalan, merugikan negara ratusan miliar bahkan triliun. Dan lupa juga tambang-tambang yang anda keruk itu menimbulkan sedimentasi sungai," tegas Dedi.

Alhasil, banyak petani yang terdampak aktivitas tambang. Seperti kehilangan waktu bercocok tanam lantaran sungai dan sawahnya kering.

Hanya saja, para petani menurut Dedi Mulyadi memilih diam, tak punya akses, dan tak berteriak-teriak, sehingga Dedi akan membela mereka yang selama ini diam dan dizolimi.

"Mereka (petani) tidak mengkonsolidir diri dalam bentuk lembagaan, mereka tidak bisa maju karena takut terhadap intimidasi ancaman siapapun yang sering menjadi back up tambang ilegal," jelas Dedi.

Karena itu, Dedi berjanji tak akan pernah takut menghadapi siapapun dan tegas bergerak mengembalikan alam Jawa Barat seperti sediakala.

“Bukan milik perorangan, tapi milik seluruh rakyat, milik seluruh warga negara. Dan alamnya bukan hanya untuk kita, tapi untuk anak cucu kita ke depan," imbuh Dedi.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore