Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Juni 2025 | 16.43 WIB

Remaja di Cirebon di Ujung Putus Asa, Gubernur Dedi Mulyadi Turun Tangan

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membantu remaja asal Cirebon yang depresi. (Instagram/@dedimulyadi71). - Image

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membantu remaja asal Cirebon yang depresi. (Instagram/@dedimulyadi71).

JawaPos.com-Satu lagi kisah pilu mengguncang jagat maya, seorang siswi SMA di Cirebon. Sebut saja namanya Bunga, nyaris mengakhiri hidupnya karena himpitan kemiskinan dan beban hidup yang terlalu berat untuk ditanggung seorang remaja 17 tahun.

Pada Jumat (6/6) pukul 23.30 WIB, Bunga nekat meneguk cairan pembersih lantai. Di balik tindakannya yang ekstrem itu tersembunyi jeritan hati yang tak terdengar.

Dia harus putus sekolah, tak mampu bayar tempat tinggal, dan hanya berpenghasilan Rp 20 ribu per hari dari bekerja sebagai penjaga toko buah di Pasar Kalitanjung. 

Hidupnya nyaris hancur, sendirian, lelah, dan nyaris tak punya harapan. Namun takdir mempertemukannya dengan keajaiban kecil. Seorang teman datang tepat waktu, menyelamatkan dan membawanya ke rumah sakit. 

Kejadian itu viral di media sosial, mengundang keprihatinan luas. Tapi dari sekian banyak yang hanya menyaksikan, satu nama tampil berbeda, Dedi Mulyadi.

Gubernur Jawa Barat ini memang dikenal sebagai pemimpin berhati nurani. Melalui akun Instagram @dedimulyadi71, dia langsung merespons cepat. Salah satu ajudannya mengurus seluruh proses administrasi rumah sakit dan memastikan pengobatan Bunga ditangani dengan baik.

“Kasus remaja asal Cirebon sudah clear,” tulis Dedi singkat.

Tapi tindakan nyatanya jauh lebih dalam dari sekadar kata-kata. Tak hanya menanggung seluruh biaya rumah sakit, Dedi Mulyadi juga melunasi semua kebutuhan sekolah Bunga. Lebih dari itu, dia mengangkat Bunga sebagai anak asuhnya, berkomitmen membiayai seluruh pendidikan sang remaja hingga tuntas. 

Harapan yang sempat nyaris padam kini menyala kembali, berkat tangan dingin sang pemimpin. Dalam unggahan videonya, Dedi Mulyadi juga mengajak seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk membangun kepekaan terhadap peserta didik. 

Dia menegaskan bahwa tak boleh ada lagi anak yang terpaksa berhenti sekolah hanya karena kekurangan biaya.

“Anak-anak kita bukan cuma butuh ruang kelas, tapi juga pelukan dan kepedulian. Jangan sampai mereka jatuh dalam diam, lalu kita menyesal saat segalanya sudah terlambat,” ungkap Dedi.

Kisah Bunga adalah tamparan bagi semua pihak. Tentang bagaimana satu nyawa muda bisa terancam hanya karena sistem belum mampu menjangkau yang paling rentan. 

Tapi juga menjadi pengingat, bahwa kepedulian bisa menyelamatkan hidup seperti yang telah dilakukan Dedi Mulyadi. Semoga tak ada lagi Bunga-Bunga lain yang harus merasa sendirian di tengah gelapnya dunia.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore