Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Mei 2024 | 13.45 WIB

Terdampak Proyek Tol Kediri-Tulungagung, Warga Mejenan Kota Kediri Mulai Bongkar Hunian Mereka, Sebagian Mencari Cuan dari Sisa Material

TUNGGU ALAT BERAT: Warga mengambili bahan bangunan yang bisa dimanfaatkan di rumah terdampak Tol Ki Agung. (FOTO: AYU ISMAWATI/JPRK) - Image

TUNGGU ALAT BERAT: Warga mengambili bahan bangunan yang bisa dimanfaatkan di rumah terdampak Tol Ki Agung. (FOTO: AYU ISMAWATI/JPRK)

JawaPos.com – Proses pengosongan lahan terdampak Tol Kediri-Tulungagung (Ki Agung) terus berlangsung hingga saat ini.

Kini, giliran warga di lingkungan Mejenan, Kelurahan Mojoroto yang harus mengosongkan huniannya.

Dilansir dari Radar Kediri JawaPos Grup, Rabu (22/5), sejumlah rumah dan bangunan yang terkena Proyek Strategis Nasional (PSN) itu ramai-ramai dirobohkan.

Setidaknya ada 150 bidang tanah di Kelurahan Mojoroto yang diketahui sudah mendapatkan surat perintah pengosongan sejak tanggal 24 April 2024 lalu jntuk menunjang pembangunan Tol Ki Agung.

“Kalau sudah termasuk yang kami surati kemarin (sejak 24 April, Red), maka deadline-nya tanggal 25 Mei,” ujar Ketua Tim Pengadaan Tanah (TPT) Jalan Tol Kediri-Tulungagung Linanda Krisni Susanti.

Setelah pembongkaran itu, Nanda—sapaan akrabnya—mengatakan, tahap selanjutnya yang akan dilakukan adalah tinggal menunggu dimulainya pelaksanaan proyek oleh kontraktor jalan tol yang sudah ditentukan pada akhir Mei ini.

Di lain sisi, pembongkaran sejumlah bangunan di sana juga dijadikan kesempatan warga untuk mencari keuntungan. Di antara bangunan yang tengah dirobohkan itu, beberapa warga nampak mengais sisa-sisa material.

Salah satunya Laksono, pria asal Kelurahan Rejomulyo itu mengaku sudah beberapa hari ini mengumpulkan sisa-sisa material yang masih bisa dimanfaatkan. Menurutnya, pemilik rumah sudah meninggalkan bangunannya sejak lama.

Kemudian, mereka juga menyerahkan urusan pembongkaran rumah mereka kepada pihak jalan tol.

“Yang punya sudah beli rumah baru. Yang ini (bekas rumah, Red) nggak dibongkar sendiri karena malah rugi,” jelasnya.

Meski TPT memberi kesempatan warga untuk memanfaatkan lagi material bangunannya, agaknya beberapa warga memilih untuk meninggalkan rumahnya begitu saja.

Hal tersebut disebabkam karena biaya pembongkaran dianggap tak sebanding dengan hasil yang didapat.

“Ini saja yang bisa diambil dan laku dijual cuma besi-besi saja. Lainnya nggak laku,” tandasnya.

Menurut keterangannya, dengan mengumpulkan besi dari bangunan bekas itu, puluhan ribu bisa dikantongi dalam sehari.

Bersama enam orang rekannya, keuntungan dari penjualan besi hasil berburu itu akan dibagi bersama-sama.

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore