Logo JawaPos

Bencana Galodo Sumbar, Jalur Aliran Lahar Dingin Gunung Marapi Harus Dikosongkan

MENEMBUS BANJIR: Sejumlah warga berjalan di kawasan permukiman terdampak banjir di Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluph Kota, Senin (13/5). - Image

MENEMBUS BANJIR: Sejumlah warga berjalan di kawasan permukiman terdampak banjir di Nagari Taram, Kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluph Kota, Senin (13/5).

JawaPos.com – Sebanyak 15 orang masih dalam pencarian akibat galodo atau banjir bandang yang menimpa tiga kabupaten/kota di lereng Gunung Marapi, Sumatera Barat (Sumbar). Jumlah korban meninggal juga sudah menembus 44 orang.

Belasan korban hilang itu terdata di dua wilayah. Perinciannya, 12 orang di Kabupaten Tanah Datar dan 3 lainnya di Kabupaten Agam. Tanah Datar, Agam, Padang Panjang, dan Pariaman adalah kawasan terdampak musibah tersebut.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suhartoyo juga memimpin rapat tanggap bencana di Padang tadi malam (13/5). Selain evakuasi para korban, salah satu yang dibahas adalah upaya membuka akses jalan yang terputus.

’’Data korban meninggal dan orang hilang ini masih terus diperbarui,” terang Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers kemarin pukul 17.30.

Terkadang data orang hilang antarkabupaten masih tumpang-tindih. Karena itu, diperlukan pengecekan identitas para korban yang dilaporkan hilang. ”Kami kroscek setiap data karena terkadang sama identitasnya,” paparnya.

Muhari mengatakan, galodo kali ini merupakan siklus 20 tahunan di wilayah Sumbar. Meski begitu, sebenarnya ada semacam peringatan sebelum kejadian pada Sabtu (11/5) malam.

”Sebulan sebelumnya itu ada luapan air yang memutus akses jalan di Bukittinggi. Ini seharusnya menjadi alert,” paparnya.

Dikutip dari Padang Ekspres, galodo berpotensi terjadi hingga 22 Mei mendatang. Karena itu, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait diimbau untuk mengosongkan jalur aliran lahar dingin dari Marapi.

Imbauan tersebut berasal dari Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati kemarin. Dia menjelaskan, hingga 22 Mei masih ada potensi curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

Dia menambahkan, ada zona-zona bahaya yang harus dihindari yang bisa terlihat dari peta wilayah potensi bencana di sekitar Marapi. ’’Lahar hujan terjadi karena ada endapan material di lereng gunung. Kemudian endapan tersebut tersapu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengatakan, berdasar analisis bulan April dasarian II, 8 persen atau 53 zona musim Indonesia sedang mengalami musim kemarau. Lalu, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki kemarau pada Mei hingga Agustus.

”Artinya, ada wilayah yang panas, tapi ada wilayah yang juga mengalami hujan. Khususnya di sore hingga malam,” ujarnya. (idr/syn/mia/nov/c7/ttg)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore