Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 November 2023 | 13.17 WIB

Kronologi Mahasiswa Asal Medan Tewas di Kamar Kos di Bali, Diduga Korban Dibunuh

Tangkapan layar Aldi Sahilatua Nababan, mahasiswa yang tewas di dalam kamar kos di Bali. - Image

Tangkapan layar Aldi Sahilatua Nababan, mahasiswa yang tewas di dalam kamar kos di Bali.

JawaPos.com–Seorang mahasiswa Elizabeth International Bali ditemukan tewas mengenaskan dalam kosnya di di Jalan By Pass Ngurah Rai, Benoa, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. Korban Aldi Sahilatua Nababan, 23, seorang pelajar asal Siborong-borong, Tapanuli Utara, Kota Medan.

Pihak keluarga mendapat kabar bahwa korban telah meninggal pada Sabtu (18/11) sekitar pukul 08.30 wita. Ada dugaan bahwa mahasiswa itu telah dibunuh dengan jasad yang sudah tergeletak dalam kamar kosnya.

Korban pertama kali ditemukan pemilik kos Nyoman Risup Artana, 43. Menurut keterangan, pemilik kos curiga lantaran depan kamar kosnya sudah dipenuhi lalat hijau. Tak hanya itu, pemilik kos juga sudah mencoba untuk mengetuk pintu kamar. Tetapi tidak ada respons dari dari dalam. Pemilik kos mengaku melihat ada darah yang mengalir keluar melewati bawah pintu kamar.

Melihat kejadian itu, pemilik kos melaporkan ke Polsek Kuta Selatan. Sesaat setelah tiba di tempat kejadian, polisi mencoba membuka pintu kamar yang saat itu dalam kondisi terkunci dari dalam. Korban ditemukan dalam keadaan tergantung nyandar di pintu kamar dengan kedua kaki menyentuh lantai. Gambaran posisi tersebut memberi arti bahwa jasad korban kemungkinan besar dibunuh.

Kondisi jasad korban juga sudah mengalami pembengkakan dengan keluarnya cairan dari tubuhnya disertai dengan engsel siku tangan yang bergeser. Darah keluar dari hidung dan mulut korban.

Kasatreskrim Polresta Denpasar Kompol Losa Lusiano Araujo mengatakan korban diotopsi tim dokter dari Rumah Sakit Bhayangkara Medan untuk mengetahui penyebab kematiannya. Polisi juga meminta pemeriksaan tambahan yaitu toksikologi dan patologi.

”Saat ini kami masih berkoordinasi dengan tim dokter Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan menunggu hasil pemeriksaan otopsi,” jelas Losa.

Alasan tidak dilakukan otopsi di Bali lanjut Losa Lusiano Araujo, karena pihak keluarga membuat surat pernyataan tidak memberikan persetujuan dan menolak proses otopsi terhadap jenazah. Sebagai gantinya yang diperbolehkan, hanya melakukan penyuntikan formalin ke dalam tubuh korban. Jasad korban diminta untuk segera dikirimkan ke kampung halaman di Medan.

”Dalam surat pernyataan dari orang tua korban siap menerima segala bentuk konsekuensi yang akan timbul di kemudian hari,” ujar Losa Lusiano Araujo.

Namun saat jasad korban tiba di Medan, pihak keluarga mencabut surat pernyataan. Mereka meminta Rumah Sakit Bhayangkara Medan melakukan pemeriksaan.

”Selama masa penyelidikan, Polresta Denpasar dan Polsek Kuta Selatan akan terus berkoordinasi dengan tim Dokter Forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan dan menunggu hasil otopsi,” papar Losa Lusiano Araujo.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore