Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 November 2023 | 16.36 WIB

Viral! Berikut Fakta Cacing Kayu Tembiluk, Makanan Khas Suku Dayak yang Memiliki Banyak Manfaat

Wujud cacing kayu tembiluk yang masih segar memiliki tekstur kenyal. - Image

Wujud cacing kayu tembiluk yang masih segar memiliki tekstur kenyal.

JawaPos.com – Tembiluk tengah menjadi perbincangan di media sosial TikTok. Konten berupa berburu hewan ini sempat naik beberapa waktu lalu. Dikutip dari akun media sosial TikTok @olahanalam pada Kamis (2/11), dijelaskan bahwa hewan ini memiliki cita rasa yang khas.

Dalam posting-annya, ia menjelaskan bahwa rasa tembiluk dipengaruhi oleh tempat tinggalnya. Kadang ada yang memiliki rasa manis, kadang memiliki rasa seperti kayu.

Hewan ini umumnya bersarang pada kayu pohon yang membusuk di muara sungai. Bagi suku Dayak, tembiluk merupakan makanan yang enak dikonsumsi saat masih mentah.

Dikutip dari akun media sosial Instagram @norlela100 pada Kamis (2/11), pemilik akun menyebutkan bahwa teksturnya yang kenyal dan mudah hancur menyebabkan tembiluk kurang cocok dijadikan sebagai makanan olahan.

Cacing tembiluk atau dalam nama latinnya Bactronophorus thoracites, sebenarnya termasuk dalam kelompok moluska. Moluska adalah hewan yang tidak memiliki kerangka tulang belakang dan memiliki tubuh yang lunak.

Namun, karena secara fisik mirip dengan cacing, di Indonesia hewan ini kemudian sering disebut sebagai cacing. Ukuran dari cacing tembiluk ini jauh lebih besar daripada cacing tanah. Tubuhnya juga tidak mengeluarkan warna yang mencolok, justru cenderung lebih ke putih pucat.

Seperti rayap, cacing ini dapat memakan dan membentuk lubang pada batang kayu yang terendam air. Cacing yang sering ditemukan di wilayah Timur Indonesia, seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua ini juga dapat menjadi salah satu penyebab dari kerusakan pada kayu yang digunakan untuk membuat perahu nelayan.

Kendati sebenarnya mereka bermanfaat sebagai pengurai, warga seringkali menganggap hewan ini sebagai hama. Oleh karena itu, untuk mengurangi populasi tembiluk, warga akhirnya menjadikan cacing ini sebagai santapan.

Cacing ini telah menjadi salah satu hidangan khas suku Dayak Bulusu di Kalimantan Utara dan suku Kamoro di Papua. Di Papua sendiri, hewan bertubuh licin ini dikenal dengan nama tambelo.

Nutrisi berupa karbohidrat, protein, dan lemak yang dikandung tembiluk ternyata dapat menjadi obat bagi beberapa penyakit, seperti rematik, batuk, dan flu.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore