
Petugas membersihkan limbah minyak hitam yang mencemari Pantai Melayu, Kota Batam, Rabu (3/5).
JawaPos.com–Sejumlah nelayan di Pantai Kampung Melayu, Kota Batam, Kepulauan Riau, khawatir banyak ikan hingga biota laut lainnya mati akibat pantai yang tercemar limbah.
Seorang nelayan Kampung Melayu Arianto mengatakan, tidak bisa melaut karena alat tangkap rusak. ”Limbah ini kemungkinan sebulan baru bisa hilang, nasib kami bagaimana alat tangkap lengket tidak bisa dipakai,” kata Arianto seperti dilansir dari Antara.
Dia menambahkan jika pun harus melaut sampai ke tengah laut pendapatannya pasti berkurang. Para nelayan berharap ada kompensasi dari pemerintah ataupun pihak terkait dengan adanya kejadian pencemaran tersebut.
”Kalau bisa ada kompensasi, karena ikan tidak mungkin ada,” terang Arianto.
Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) kawasan Nongsa Muhammad Idris mengatakan, pencemaran limbah saat itu sangat merugikan nelayan. Saat ini, jumlahnya mencapai ratusan orang, yang tergabung dalam 11 kelompok dengan masing-masing kelompoknya beranggota 11 hingga 15 orang.
”Ini sangat rugi. Kami berharap akan ada kompensasi khususnya untuk nelayan di sini,” ujar Idris.
Dia menjelaskan, pencemaran limbah minyak hitam tersebut bukan yang pertama kali terjadi. Beberapa tahun lalu sudah pernah juga.
”Tapi waktu angin utara dan saat itu masih terbilang wajar karena ada angin dan gelombang kencang karena musim utara,” terang Muhammad Idris.
Kejadian kali ini, menurut Idris, tidak wajar karena saat ini musim angin timur yang seharusnya laut dan gelombang dalam keadaan tenang.
”Seharusnya memang tidak ada saat ini karena angin timur. Inilah waktunya para nelayan turun ke laut,” papar Idris.
Sementara itu, Direktur Kriminal Khusus Polda Kepulauan Riau Kombespol Nasriadi mengatakan, limbah minyak hitam yang mencemari Pantai Kampung Melayu, Kota Batam, diduga berasal dari Kapal MT Pablo dengan destinasi Tiongkok-Singapura yang terbakar di Perairan Malaysia.
”Laporan yang kami terima dari pihak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), limbah minyak hitam tersebut diduga berasal dari Kapal MT Pablo dengan destinasi Tiongkok-Singapura dengan kapal berbendera Gabon yang terbakar di Perairan Malaysia dua hari lalu, Senin (1/5),” ujar Nasriadi, Rabu (3/5).
Selain itu kata dia, laporan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam, dilihat dari hasil Satelit Print pada 30 April ada tiga lokasi tumpahan minyak di OPL (out port limit) timur dengan luas estimasi tumpah 13,70 kilometer.
”Menurut perkiraan kejadian cemaran di garis Pantai Kampung Melayu ini, punya hubungan dengan tumpahan di OPL timur,” terang Nasriadi.
Diduga limbah minyak hitam tersebut ada juga ditemukan di daerah labuh jangkar Perairan Batu Ampar dan Tanjung Uncang. Nasriadi menyebutkan, sudah berkoordinasi dengan beberapa pihak terkait seperti KSOP dan DLH untuk melakukan penanggulangan sementara dan mencari tahu asal usul limbah tersebut.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
