Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Februari 2020 | 18.02 WIB

Mencari Sumbatan Terowongan, Upaya Menekan Korban Bila Kelud Meletus

Kawah Gunung Kelud. (Radar Kediri) - Image

Kawah Gunung Kelud. (Radar Kediri)

JawaPos.com - Upaya menemukan terowongan di bawah kawah Gunung Kelud terus diupakana. Kenapa terowongan itu sangat penting? Khoirul Huda, Petugas pengamat Gunung Kelud dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi(PVMBG) menyebut bahwa terowongan itu sangat dibutuhkan untuk meminimalisasi potensi bencana.

“Kalau terowongan itu tidak ditemukan, tentu potensi bahaya akan kembali seperti letusan 20 Mei 1919 lalu,” tutur Khoirul seperti dikutip Radar Kediri, Sabtu (16/2).

Kelud terakhir meletus 6 tahun lalu dengan melontarkan material letusan mencapai 17 kilometer. Letusan itu cukup parah dan merusak bangunan di sekitarnya. Salah satunya, Terowongan Ampera.

Data yang diperoleh Jawa Pos Radar Kediri, saat itu air kawah tidak berkurang. Saat letusan terjadi pada 1919, total korban jiwa mencapai 5.160 jiwa. Saat itu, air yang memenuhi kawah berubah menjadi awan panas. Saat terlontar menjadikan korban jiwa semakin tinggi.

Belajar dari kejadian itu, pemerintah Belanda membangun terowongan Ampera pada 1923. Pembangunannya membutuhkan waktu dua tahun. Semenjak itu, korban jiwa turun drastis. Data korban yang berhasil tercatat pada letusan 24 April 1966, korban sebanyak 210 korban jiwa. Sementara untuk 10 Februari 1990 sebanyak 34 korban jiwa. Di tahun ini korban jiwa dijelaskan karena bangunan tempat pengungsian ambruk terkena beban abu.

“Kalau sekarang, terowongan ampera masih tertutup material sekitar 20 meter. Aliran air kawah ke luar tidak lancar dan hanya melalui rembesan-rembesan,” terangnya. Sayang, sampai kemarin, pihak PVMBG belum bisa melakukan penghitungan karena keterbatasan peralatan.

Tidak hanya air yang mengalir melalui rembesan ke luar, tetapi juga volume air yang menutup cekungan kawah. “Belum bisa dipastikan saat hujan seperti ini. Banyak runtuhan material dari tebing yang masuk ke kawah,” beber petugas pengamat lainnya, Budi Prianto.

Menurut Khoirul Huda, kalau hujan, air kawah bisa naik hingga 30-40 meter. “Karena itu, kami kesulitan menghitung real jumlah air kawah. Apalagi saat musim hujan seperti ini ada rembesan dari tebing dan campuran material membuat air kawah penuh,” terangnya.

Meski sudah ada rembesan yang keluar dari outlet terowongan Ampera, Khoirul mengaku khawatir jika jalur rembesan itu akhirnya juga buntu karena kembali tertutup material. “Karena itu, kebutuhan penemuan terowongan tersebut tetap penting,” tegasnya. Sebab, saat jalur sudah ditemukan, dan dibersihkan, maka nantinya akan bisa digunakan secara maksimal untuk mengalirkan air kawah ke luar.

Bukan hanya menemukan terowongan Ampera, terang Khoirul, saat ini juga dibutuhkan penahan tebing kawah. Sehingga material tidak longsor dan masuk ke kawah Gunung Kelud. “Selain itu, juga diperlukan jalan inspeksi untuk membantu pemantauan,” terangnya.

Perlu diketahui, Gunung Kelud yang juga dikenal dengan nama Gunung Kelut ini menjadi gunung api aktif di Jawa Timur. Berada di Dusun Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar. Berada di wilayah administrasi Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang. Memiliki puncak 1.731 mdpal dengan tipe gunung strato dengan danau kawah. Karena dikelilingi pemukiman padat inilah yang membuat gunung kelud memiliki potensi bencana yang tinggi.



Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore