
WASPADA: Muspida Jember melakukan sidak kepada pedagang ikan kemarin. Ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya keracunan lagi. (DWI SISWANTO/JAWA POS RADAR JEMBER)
JawaPos.com – Sebanyak 250 orang menjadi korban keracunan. Mereka diketahui mengonsumsi ikan tongkol. Ikan yang dikonsumsi tersebut adalah jenis tongkol tikus yang sudah rusak.
Dalam jumpa pers di Pemkab Jember kemarin (2/1), Plt Kepala Dinas Perikanan Murtadlo menyampaikan, ikan tongkol jenis tikus sebenarnya adalah ikan yang aman dikonsumsi. Tetapi, ikan tersebut memiliki ketahanan tubuh yang lemah dan relatif lebih cepat rusak. ”Di Puger, para nelayan memang panen ikan tongkol locot atau tongkol jenis tikus. Warna ikannya lebih hitam,” kata Murtadlo.
Sebenarnya, ungkap dia, ikan tersebut tidak berbahaya. Tetapi, ujar Murtadlo, karena masyarakat tidak tahu cara menyimpannya, muncullah histamin atau racun yang ditimbulkan ikan.
Ikan tak bersisik seperti tongkol, menurut dia, memiliki ketahanan yang kalah tangguh dengan ikan bersisik. Sementara itu, tongkol tikus merupakan ikan yang paling mudah rusak dibanding jenis ikan serupa.
”Tiga sampai empat jam saja tongkol tikus ini bisa rusak. Kecuali disimpan menggunakan es, dimasukkan ke freezer, diasap, atau dioven,” ucapnya.
Insiden keracunan yang terjadi di masyarakat, menurut dia, disebabkan banyak orang yang tidak mengetahui cara menyimpan ikan. Begitu mereka membeli tongkol tikus di Puger atau tempat lain, ikan tersebut dibiarkan begitu saja. Biasanya ikan itu dibeli pagi atau siang, kemudian tidak disimpan dengan es atau diawetkan dengan cara lain. ”Begitu dibakar malam hari, kondisi ikan sudah rusak, berrek kata nelayan Puger,” jelas Murtadlo.
Pada waktu ikan dibiarkan lama tanpa diberi es, empat jam setelah itu tubuh ikan mengeluarkan racun histamin. Racun itulah yang kemudian membuat warga yang mengonsumsinya mengalami mual, pusing, dan sakit.
”Ikan apa pun kalau sudah rusak juga bisa membuat orang alergi,” bebernya.
Murtadlo menyebut, kesalahan penyimpanan itu bukan pada nelayan atau pedagang, tapi lebih ke konsumen. Sebab, dia mengklaim, seluruh nelayan dan pedagang sudah diberi pembinaan agar selalu menggunakan es untuk menyimpan ikan jenis apa pun.
”Kalau pembinaan kepada nelayan sampai kepada pedagang yang keliling sudah. Tetapi, setelah dibeli, masyarakat ini yang kadang tidak menyimpan dengan cara yang benar,” jelasnya.

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Shin Tae-yong Bajak Staf Persebaya Surabaya, Gerbong Eks Timnas Indonesia Bisa Diboyong ke Persija Jakarta
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
BREAKING NEWS! Persija Jakarta Resmi Tunjuk Shin Tae-yong sebagai Pelatih Baru
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Melihat 10 Besar Penjualan Mobil Mei 2026: Jaecoo Kuasai Brand Tiongkok, Tak Ada Nama BYD
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Sudah Setor Total Rp 117 Miliar tapi Rumah Tak Kunjung Jadi, Konsumen Emeralda Resort Polisikan Yana Priatna
