
Kepala Cabang ACT Jawa Barat, Renno Mahmoeddin memberikan pelatihan wirausaha kepada santri dan satriwati di Pesantren Ash Shalahuddin yang berlokasi di Desa Sindang Kerta, Cililin, Kabupaten Bandung Barat. (ACT for JawaPos.com)
JawaPos.com - Ada hal yang tak lazim dari para santri yang menempati Pesantren Ash Shalahuddin yang berlokasi di Desa Sindang Kerta, Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Pasalnya, para penghuni pesantren tersebut dididik hidup mandiri dengan caranya berniaga guna memenuhi kebutuhan hidup.
Pada saat memasuki area pesantren, terdapat gapura yang bertuliskan pesantren enterpreuner. Pesantren yang berdiri sejak 1956 ini mengusung pendidikan agama Islam serta kewirausahaan bagi para santri dan santriwatinya.
Pesantren ini dihuni oleh para santri yang berasal dari keluarga dengan perekonomian yang kurang mampu dan anak yatim. Santri yang tinggal diajarkan bagaimana caranya berwirausaha secara gratis dengan berjualan produk olahan lele.
Pimpinan pesantren Ustaz Asep menuturkan, para santri diajarkan untuk memegang prinsip Nabi Muhammad yang mengatakan bahwa kemiskinan dapat mendekatkan dengan kekufuran.
“Santri di sini diajarkan untuk berjualan. Salah satu produknya ialah makanan dari olahan ikan lele, mulai dari kerupuk, abon, hingga stik lele dengan harga 2-20 ribu rupiah,” ungkapnya.
Mulai dari Senin sampai Jumat, para santri itu dijadwalkan untuk berjualan dari jam 2 siang sampai jam 5 sore. Lokasi yang menjadi tempat prakteknya adalah pemukiman di sekitar pesantren.
Salah satu santri bernama Adi Saputra yang juga ikut belajar kewirausahaan berkata bahwa dengan menjajakan kerupuk lele dengan harga Rp 2 ribu per kemasan dapat menghasilkan pendapat mulai dari Rp 80 ribu hingga 200 ribu sekali berkeliling.
Adi juga mengungkapkan, terkadang ia tidak mendapatkan pembeli sama sekali. “Kalau enggak laku ya sedih, tapi gapapa juga, sambil belajar,” tuturnya.
Pesantren tersebut memiliki kolam yang berfungsi sebagai tempat membudidayakan lele. Terdapat 57 santri dan 9 tenaga pengajar yang terlibat dalam produksi olahan lele, bahkan sejak pemeliharaan di kolam.
Nantinya, semua pendapatan dari usaha lele ini digunakan untuk keperluan pesantren dan para santrinya.
Untuk membantu pesantren tersebut, komunitas Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberikan satu ton beras untuk Pesantren Ash Shalahuddin. Beras ini merupakan kelanjutan dari program Beras untuk Santri Indonesia (BERISI) yang ACT luncurkan pada 22 Oktober 2019 lalu yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional.
Dengan adanya bantuan ini diharapkan dapat membantu kebutuhan pangan para santri. “Semangat belajar para santri ini perlu dijaga, salah satu cara yang ACT lakukan dengan program BERISI,” ungkap Kepala Cabang ACT Jawa Barat, Renno Mahmoeddin.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
13 Gudeg Paling Enak di Solo dengan Harga Terjangkau, Rasa Premium, Cocok untuk Kulineran Bareng Keluarga!
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Sejarah Die Roten Selalu Lolos dari Semifinal Liga Champions, Masih Dominan Lawan Klub Ligue 1
