Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Juni 2019 | 14.17 WIB

Sulis, Sopir Mobil Ambulans yang Sukarela Jadi Pemantik Traffic Light

BELUM ADA PANGGILAN: Sulis berjaga di dekat mobil ambulans yang tak jauh dari traffic light pos polisi Legundi, Kecamatan Driyorejo. (Galih Wicaksono/Jawa Pos) - Image

BELUM ADA PANGGILAN: Sulis berjaga di dekat mobil ambulans yang tak jauh dari traffic light pos polisi Legundi, Kecamatan Driyorejo. (Galih Wicaksono/Jawa Pos)

Setiap hari Sulis pasti terlihat di perempatan Legundi, Kecamatan Driyorejo. Mobilnya diparkir di seberang jalan. Dia sendiri menunggu di pos jaga polisi sambil memantau arus kendaraan. Begitu jalanan mulai macet, cepat-cepat Sulis mengatur waktu traffic light.

GALIH WICAKSONO, Gresik

LEBARAN ini Sulis tidak pulang kampung. Keluarga telah diantar ke Sidoarjo dulu. Terutama istrinya. Dia lalu minta izin "piket" di pos polisi perempatan Legundi. Jadi sukarelawan penjaga lalu lintas di sana. Dari balik jendela pos berukuran 5 x 3 meter itu, Sulis mengamati kepadatan lalu lintas. Biasanya, saat arus mudik dan arus balik, lalu lintas sangat ramai.

Sulis duduk di bawah panel pemantik lampu. Posisinya menempel di tembok dekat pintu. Kalau kepadatan terlihat, itu berarti gilirannya bertugas. Untuk sisi lajur jalan yang macet, lampu merahnya dicepatkan. Waktu lampu hijaunya ditambah. Di panel itu sudah ada tulisan petunjuk.

T berarti lampu sisi timur. B berarti barat. S sisi selatan dan U sisi utara. Lengkap dengan tombol merah, kuning, dan hijau. Kadang juga terdengar suara, "Silakan pengendara dari sisi utara berjalan". Itu pertanda Sulis sedang mengingatkan pengendara yang melebihi lampu traffic light. Pengendara itu berada di tengah-tengah jalan.

Sulis bertugas sukarela. Tugas "piket" di pos itu dilakukan ketika tidak ada panggilan untuk ambulans. Namun, jika sewaktu-waktu ada yang membutuhkan ambulans, dia siap berangkat. Mulai pukul 06.00 sampai 20.00. Kalau tengah malam ada panggilan, Sulis tetap siap meluncur.

Dari wilayah Driyorejo, Wringinanom, Kedamean, Sulis biasanya dipanggil lewat telepon genggam. Khususnya jika terjadi kecelakaan dan ada korban meninggal. "Di sini ada laka MD (meninggal, Red). Saya langsung meluncur kalau ada berita itu," kata lelaki 62 tahun tersebut.

Bisa dibilang, Sulis sangat pengalaman sebagai sopir ambulans. Sejak 1980, dia jadi driver ambulans. Waktu itu, bertugas di Puskesmas Wringinanom. Kemudian, pindah ke Puskesmas Driyorejo, Puskesmas Menganti, hingga pensiun di Puskesmas Karangandong pada 2017. Statusnya sudah pegawai negeri sipil (PNS).

Dia punya banyak cerita. Pernah mengantarkan jenazah dengan mobil bututnya sampai ke Bengkulu. Lima hari lima malam baru sampai. Selama itu tidak ada kendala.

Pernah juga, kata Sulis, dirinya melanggar aturan. Seharusnya, satu peti jenazah dibawa satu mobil ambulans. Namun, keluarga almarhum orang tidak mampu. Oleh rumah sakit di Surabaya, mereka dipatok bayar Rp 12,5 juta per satu mobil. Padahal, waktu itu, ada dua korban yang meninggal akibat kecelakaan di Krian, Sidoarjo.

Lelaki tersebut mencoba komunikasi dengan rumah sakit. Akhirnya, dibawalah dua peti jenazah itu dengan satu mobil ambulans ke Banyuwangi. Bayarnya separo. Dari semula Rp 25 juta menjadi Rp 12,5 juta. Lelaki dengan lima cucu itu tidak mematok harga normal. Kalau memang orang tidak punya, setengah harga pun dia berangkat. "Niat saya membantu," ungkap Sulis.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore