
Novelis Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin
JawaPos.com - Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang lebih dikenal dengan NH Dini merupakan seorang sastrawan yang memiliki kontribusi cukup besar bagi Bangsa Indonesia. Baik itu dari sisi budayanya, maupun berupa hasil karyanya yang juga menjadi rujukan bagi tata bahasa Indonesia.
Sedikit kontribusinya terhadap bangsa itu terungkap dalam sebuah forum diskusi di Ndalem Natan, Kotagede, Kota Jogjakarta, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) pada Minggu (3/2) siang. "Banyak sekali di kamus besar Bahasa Indonesia yang merujuk, mencontoh karya sastra Mbak NH Dini. Kontribusinya terhadap Bahasa Indonesia sangat besar," kata Nasir Tamara, salah seorang pembicara dalam acara itu.
Pria yang juga merupakan ketua umum dari Persatuan Penulis Indonesia (Satupena) itu mengungkapkan, NH Dini mempunyai hubungan yang baik dengan penyunting bukunya. "Ibu Dini sangat berprinsip. Kalau dalam menulis diacak-acak sembarangan, diganti kata-katanya harus dinegosiasikan terlebih dahulu," katanya.
NH Dini semasa hidup, disebutnya juga mencintai seni tari. Jenis tari gaya Jogja, Solo, maupun Bali pernah dipelajarinya. "Beliau pernah menari di depan Presiden Soekarno di Istana. Tari gaya Jogja, Solo, Bali. Dia belajar tari Bali sangat senang, sangat bangga," katanya.
Bakatnya menari inipun, lanjutnya, sering diundang di beberapa tempat untuk tampil. Tak terkecuali ketika di luar negeri. "Dia yang mengenalkan keindahan seni tari di luar negeri. Sangat berjasa (untuk Indonesia)," ucapnya.
NH Dini lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 29 Februari 1939 silam. Ia kemudian meninggal pada 4 Desember 2018 di Semarang akibat kecelakaan. Selama 60 tahun NH Dini menekuni profesi sebagai seorang penulis. Karya-karya sastranya pun sudah cukup banyak, yakni Pada Sebuah Kapal, La Barka, Pertemuan Dua Hati, Hati yang Damai, dan masih banyak lagi.
"NH Dini ini satu-satunya orang yang berani menulis kisah fiksi berdasar kisah hidupnya sendiri. Penulis lain nggak berani, kadang namanya diganti," kata Nasir.
Nasir juga mengungkapkan, perkenalan pertamanya dengan NH Dini sekitar 1976 silam. Ketika ia masih menjalani studi di Perancis, diundang untuk makan. "Saya diundang bersama beberapa profesor," katanya.
NH Dini saat itu memang sedang menetap bersama keluarganya. Ia menikah dengan seorang diplomat Perancis, dan tinggal di sebuah apartemen sederhana yang disediakan oleh pemerintah. "Beliau sering mengundang para mahasiswa untuk makan siang. Kebaikan hati seorang yang punya rasa keibuan tinggi terhadap mahasiswa dan pelajar (asal Indonesia)," ujarnya.
Sosok NH Dini dari kaca matanya, juga memiliki sikap yang pandai bergaul. Almarhumah bisa membedakan ketika harus menulis, memerlukan waktu untuk sendiri maupun saat bergaul bertemu dengan banyak orang. "Beliau merupakan satu-satunya 60 tahun konsisten menjadi penulis," pungkasnya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
