
Putri Yolanda bersama dua anaknya yang masih kecil saat ditemui di rumahnya, Rabu pagi (30/1).
JawaPos.com - Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menebak garis hidupnya. Sama seperti yang dirasakan oleh Putri Yolanda, 26.
Sama sekali tak terbesit di pikirannya bahwa dia harus menanggung beban hidup yang berat. Dia harus menghidupi tiga buah hatinya seorang diri sejak November lalu.
Suaminya, Achmad Hilmi Hamdani, harus meringkuk di sel tahanan Rutan Medaeng, Sidoarjo. Hilmi yang bekerja sebagai driver ojek online (ojol) ditahan karena terlibat kecelakaan di Jalan Mastrip, Surabaya. Putri merasa hukum di negeri ini tidak berpihak kepada orang kecil sepertinya.
Kecelakaan yang terjadi pada 17 April setahun silam itu berawal saat Hilmi (sapaan akrab suami Putri) menerima order ke Bogangin Baru. Saat itu Hilmi mengantar seorang perempuan bernama Umi Insiyah. Sesampainya di Jalan Mastrip, motor yang dikendarai Hilmi berhenti sejenak. Dia bermaksud menyeberang ke gang Bogangin yang ada di sisi kanan jalan.
Celaka, pada saat yang bersamaan muncul dua motor yang melaju dari arah Karang Pilang. Salah satu motor itu kemudian menabrak Hilmi dan Umi hingga terpental. Motor yang menabrak itu dikendarai oleh seorang anggota marinir Miftakhul Effendi.
Singkat cerita, Umi meninggal dunia tiga bulan setelah kecelakaan. Namun dia meninggal bukan karena kecelakaan, melainkan sakit. Putri sama sekali tidak menyangka bahwa kecelakaan tersebut menyeret suaminya ke meja hijau. Pikirnya, kecelakaan itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan.
JawaPos.com menemui Putri di kediamannya yang terletak di Jalan Kedung Turi III/ 45, Rabu pagi (30/1). Rumah tersebut jauh dari kata layak. Tidak ada pintu rumah. Hanya selembar gorden berwarna hijau yang membatasi ranah privat rumah tersebut. Warna gorden itu sudah kusam. Sekeliling dinding luarnya masih berupa batu bata. Belum ditembok.
Saat masuk ke dalam, kondisinya lebih memprihatinkan lagi. Rumah itu hanya punya dua ruangan dengan sekat tembok. Tidak ada ruang tamu. Ruang depan dipenuhi perkakas dapur, dua rak yang dipenuhi mainan anak-anak, lemari yang dijadikan gantungan alat masak, dan tikar ala kadarnya. Ukurannya sekitar 2x3 meter persegi. ”Maaf ya. Ya begini ini kondisi rumah saya,” sapa Putri saat JawaPos.com memasuki rumah tersebut.
Putri lalu mengambil duduk bersila. Dia mulai menceritakan kondisi keluarganya setelah ditinggal Hilmi. ”Anak kami tiga. Yang paling kecil ini belum tuwuk ketemu Mas (Hilmi). Baru umur dua bulan sudah ditinggal, Mas ditahan di Medaeng,” cerita Putri.
Pasangan tersebut dikaruniai tiga orang anak. Yang sulung bernama Pandega Putra Hamdani, berumur 6 tahun dan duduk di TK B. Putra kedua Adinata Noer Hamdani, 4 tahun, masih polos-polosnya bermain dan belajar di PAUD. Sedangkan si bungsu, seorang putri mungil nan jelita, Agatha Putri Hamdani, saat ini usianya baru menginjak 4 bulan.
Sejak 22 November lalu, ketiga bocah itu tidak pernah bertemu lagi dengan ayahnya. Hilmi ditahan tanpa ada isyarat.
Putri mengatakan, Hilmi sama sekali tidak pernah bercerita bahwa kasusnya itu diproses hukum. Kecelakaan itu saja sudah dianggap sebagai musibah. Hilmi bahkan harus dioperasi, dia sempat tidak bisa berjalan dan narik orderan lagi. ”Saya kaget saja, nggak pernah cerita. Tiba-tiba ditinggal sendiri, berat,” ujar Putri terbata-bata.
Saat air matanya mulai membasahi pipi, Putri bangkit dari duduknya. Dia mengusap mata dan pipinya, lalu pamit sebentar ke ruang dalam. Ceritanya terpotong karena Agatha terbangun dari tidurnya. Dia lalu membawa Agatha ke ruang depan. ”Ini dia yang paling kecil. Kalau yang nomor satu (Pandega) masih sekolah, yang nomor dua (Adinata) masih main ke tetangga. Saya bingung kalau jelaskan ke mereka, di mana ayahnya sekarang,” ucap Putri sambil menaruh kembali bayi mungilnya di lantai beralas tikar.
Dua bulan lebih Hilmi ditahan, Putri tak pernah bercerita jujur ke anak-anaknya. Jika anaknya bertanya di mana Hilmi, Putri beralasan bahwa sang imam keluarga itu masih ikut membantu membangun sebuah masjid.
Hilmi memang rutin mengikuti majelis pengajian di Kembang Kuning. Sekali saban bulan, dia biasa mengajak keluarganya untuk mengikuti pengajian. ”Yang paling besar itu sudah peka, dia seperti sulit percaya kalau ayahnya sedang membantu pembangunan masjid. Tapi untungnya dia sering diajak, jadi bisa diyakinkan. Tapi ya saya nggak tahu lagi mau sampai kapan terus bohong sama anak-anak,” tutur Putri. Kali ini air matanya kembali menetes.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea! Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Persib Bandung
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
12 Tempat Makan Legend di Bandung yang Wajib Dicoba, Ada yang Sudah Berdiri Sejak Zaman Belanda!
Awas Macet! Besok Ribuan Buruh Demo May Day di Surabaya, Ini Jalan yang Perlu Dihindari
