
Wilis dan istrinya Widya Shanti menunjukkan Keripik Singkong Balado SK, Selasa (15/1).
JawaPos.com - Pribahasa kerja keras tak mengkhiatani hasil sepertinya dirasakan Wilis, bos keripik singkong Balado SK. Pria 40 tahun ini memulai usahanya dengan modal Rp 100 ribu. Kini, omzet perbulannya bisa mencapai Rp 200 juta.
Usaha keripik singkong dirintis sejak 2015 lalu kini sudah memiliki 12 karyawan. Awalnya, Wilis hanya berpikir agar istrinya, Widya Shanti punya kesibukan di waktu luang. Sementara resep bumbu balado keripik, didapat dari ibunda Widya yang sempat berkunjung ke rumah Wilis.
”Waktu itu istri saya minta resep keripik singkong balado ke ibunya. Sedangkan ’SK’ diambil dari nama depan dua anak Wilis, yakni Steve Alden dan Kent Jeiya,” tuturnya.
Menjalani bisnis keripik singkong ternyata tak mudah. Bisnis itu banyak membuat waktu istirahatnya tersita untuk memproduksi keripik singkong.
”Produksi pagi-pagi sekali. Mulai pukul 04.00 WIB, saya dan istri sudah membuat keripik. Setelah itu, pukul 06.00 WIB saya bersiap pergi kerja. Sedangkan istri saya mengurusi anak sekolah. Siangnya, istri kembali melanjutkannya,” katanya kepada Radar Banten (Jawa Pos Group), Selasa (15/1).
Untuk pengemasan keripik biasanya dilakukan pada malam hari sepulang Wilis menjalani aktivitas pekerjaannya. Ia dan istrinya mulai mengemas keripik sekira pukul 22.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB.
”Hal itu terus berulang selama dua hingga tiga bulan pertama produksi,” ungkap pria dua anak itu.
Wilis ingat betul. Keripik buatannya pertama ditawarkan kepada para tetangganya. Keripik buatannya langsung disukai. Dan banyak yang membeli. ”Awal-awal hanya tetangga. Dari situ, mulai banyak yang memesan,” tutur anak pertama dari tiga bersaudara itu.
Dia juga menitipkan keripik buatannya ke minimarket. Namun, lantaran belum ada labelnya, sempat diprotes. ”Saya waktu itu nitip di Benny Mart dan Mr Frozen. Karena kemasannya diprotes waktu itu saya sempat memperbaiki kemasan dalam waktu satu pekan,” urai alumnus Universitas Binus itu.
Dari situ, Wilis mendapat pesanan yang cukup besar. Ia bahkan diminta membuat keripik singkong untuk dipasarkan di luar Bali, Medan, dan Lampung.
”Untuk pemasaran terbesar saat ini masih di Tangerang, Jakarta, dan Bogor. Kalau ditotal setiap hari 400-500 bungkus kemasan 250 gram dengan harga Rp15 ribu,” ujar pria kelahiran Pematang Siantar ini.
Kini, ia sudah mempekerjakan 17 orang yang 12 di antaranya merupakan warga Cipondoh, sementara lima lainnya asal Kabupaten Pandeglang.
”Saya sengaja mempekerjakan warga sekitar yang belum mempunyai pekerjaan,” ungkap pria yang bekarja di bidang accounting itu. Ia berharap ke depan usahanya terus berkembang agar semakin banyak orang yang bisa ia pekerjakan.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
