Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Januari 2019 | 12.50 WIB

Lantai Jebol, Atap Bocor, Usulan Rehabilitasi Tak Kunjung Disetujui

KULIT KAYU. Dinding SD Jarak Jauh di Dusun Keluas Meniba, Desa Harapan Jaya, Kecamatan Tanah Pinoh Barat yang terbuat dari kayu dan beberapa keping papan. Foto diambil 2017 lalu. - Image

KULIT KAYU. Dinding SD Jarak Jauh di Dusun Keluas Meniba, Desa Harapan Jaya, Kecamatan Tanah Pinoh Barat yang terbuat dari kayu dan beberapa keping papan. Foto diambil 2017 lalu.

JawaPos.com - Kondisi sekolah memprihatinkan juga tampak di SDN 27 Desa Batu Buil Kecamatan Belimbing Kabupaten Melawi. Namun, sekolah ini lebih baik dari SDN 45 Tatai. Karena lantai dan dindingnya papan. Namun atas sekolah banyak bocor.


Kepala SDN 27 Batu Buil, Joni menjelaskan, sekolah tersebut dibangun di lahan pribadinya seluas 2100 meter persegi. Tanpa ada ganti rugi dan sebagainya. Kemudian dinding papan dibangun pakai uang pribadinya. Ukurannya 15 x 7 ia buat 4 petak. Termasuk dengan kantornya.


"Kemudian satu lagi saya bangun 4 x 6, yang kini atapnya sudah bocor. Jumlah ruangan ruang yang saya bangun ada 5," katanya dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Selasa (23/1).


Dia menjelaskan, selama ini proses belajar mengajar di SDN 27 Batu Buil berjalan lancar. Terdapat sekitar 80 murid. Terdiri dari kelas 1 sampai 6. Baru satu bangunan yang dibantu pemerintah. Ukuran 8 x 9 meter.


"Jadi, yang saya bangun itu digunakan anak kelas 1, 3, 4 dan 6. Anak kelas 2 dan 5 menggunakan bangunan yang dibangun pemerintah," paparnya.


Joni mengatakan, pihaknya setiap tahun mengusulkan rehabilitasi bangunan menggunakan data Dapodik. Namun belum juga terealisasi.


Padahal kondisi bangunan sekolah tersebut sudah sangat memprihatinkan. Lantai papan banyak jebol dan atap bocor.


"Kami sudah mengusulkan menggunakan dapodik setiap tahun, tapi belum ada pembangunan," ucap Joni.


Terpisah, Kepala Disdikbud Melawi, Joko Wahyono mengatakan, SDN 27 Batu Buil memang awal pendiriannya terdapat sedikit permasalahan. Selama ini atau sebelum berdiri SDN 27, anak-anak-anak di sekitar pabrik itu menempuh pendidikan di SDN Soyong.


"Sehingga waktu itu ada desakan untuk mendirikan gedung sekolah," jelasnya.


Pada waktu itu, pihaknya memang sangat selektif. Untuk dirikan SD harus memiliki lahan kosong minimal seluas 10 ribu meter persegi atau 1 hektare. Paling tidak ¾ hektare.


"Pada waktu itu yang diusulkan tanahnya sangat minim dan tidak memenuhi syarat, sehingga ada sedikit kendala sampai hari ini," tuturnya.


Padahal pada waktu itu kata dia, masyarakat berjanji akan menghibahkan tanah yang ada di sekitar SDN SDN 27 Batu Buil.


Agar dapat dibangun sekolah sesuai standar dan kriterianya harus dipenuhi. "Tapi sampai dengan hari ini menurut kami lahan yang tersedia itu sangat minim dan sulit untuk dikembangkan," jelasnya.


Kepada pihak perusahaan perkebunan atau masyarakat harus berupaya memperluas lahan untuk diserahkan kepada Disdikbud. Sehingga lahan sekolah tersebut dapat diurus menjadi milik Pemkab Melawi. Agar Disdikbud Melawi bisa mengembangkan sarana prasarana yang diperlukan SDN 27 Batu Buil.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore