Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Januari 2019 | 02.00 WIB

Pernah Cicipi Pasar Eropa, Rotan Kampung Krabatan Kini Loyo

Ahmad Soleh dan kerajinan rotan karyanya. - Image

Ahmad Soleh dan kerajinan rotan karyanya.

JawaPos.com - Tak kurang dari dua dekade nama kerajinan rotan Kampung Krabatan, Kota Semarang, bergaung hingga ke luar negeri. Namun, pamornya sekarang seolah redup diterjang kerasnya roda kehidupan.


Adalah Ahmad Soleh, 52, seorang pengrajin rotan yang sempat mencicipi buah manis menganyam rotan. Warga RT 01/ RW 02 Kampung Krabatan, Kelurahan Pakintelan, Kecamatan Gunungpati ini, bercerita pengalamannya selama 22 tahun menekuni bisnis kerajinan hasil hutan non kayu ini.


Ahmad mengisahkan bagaimana ia memulai usahanya, tepatnya tahun 1997 silam. Semula, kemampuannya menganyam rotan menjadi aneka macam bentuk kerajinan diperoleh dari orangtua. Lalu pernah ikut bekerja di sebuah perusahaan asal Tiongkok di Jakarta.


"Saya bisa mengerjakan bentuk apapun. Kira-kira hampir seratus jenis kerajinan dari rotan bisa saya buat. Pokoknya, tergantung pesanan dan diberi contoh gambarnya," ujarnya saat dijumpai di kediaman yang juga tempat kerjanya, Sabtu (12/1).


Dengan bahan baku yang biasa ia peroleh dari Jepara, Cirebon, dan Solo itu, dirinya mampu mengubahnya menjadi bentuk topi; boneka; keranjang; dan vas bunga. Seperti yang terpampang di bagian luar dan dalam rumahnya.


Mendapat order dari luar negeri, bukan hal asing baginya. Seperti saat dirinya diminta membuat 200 buah replika kanguru untuk dikirim ke Australia.


"Ini makan waktu sampai dua bulan. Kalau yang biasa paling cepat dua-tiga hari jadi," katanya.


Spesialisasinya ternyata tak cuma rotan. Bambu pun sanggup ia ubah menjadi aneka ragam replika, seperti serangga kupu-kupu ataupun kumbang yang pernah ia kirim ke sejumlah pelanggan di Inggris sana.


Namun, itu cerita lawas saat bisnisnya sedang di puncak. Dewasa ini, kendala demi kendala mampir dan membuat usahanya tak bisa semulus dahulu.


Yang pertama adalah dari sisi bahan baku. Katanya, pasokannya sekarang sudah tak sebanyak dulu. "Ini jelas memengaruhi manakala ada pesanan dalam jumlah partai," ujarnya.


Kedua, angka pengrajin di kampungnya juga sudah berkurang banyak. "Rata-rata pindah profesi, anak muda jaman sekarang juga enggan beginian. Kalau di sini tinggal lima orang saja," katanya.


Seakan belum cukup, ternyata industri kerajinan rotan sekarang ini tengah tak bersinar terang. Membuat permintaan pun menurun drastis.


Kerajinan tangan Ahmad ini dibanderol dengan harga bervariasi, mulai termurah Rp 10 ribu hingga Rp 4 juta. Sekali produksi, ia bisa menghabiskan sebanyak satu sampai dua kuintal rotan. Seperti bentuk kanguru tadi, bisa tiga kuintal sebenarnya. Semua tergantung skala pesanan.


Pesanan dari luar negeri sebenarnya masih ada. Cuma tak sesering dulu. "Sekarang ya sepi gini paling penghasilan sebulan Rp 3 juta. Belum itu ongkos beli bahan baku rotan per 1 kilogramnya Rp 40 ribu," keluhnya.


Saat ini, Ahmad dalam sehari hanya mampu memproduksi sebanyak lima buah tas berbahan rotan guna memenuhi permintaan pasar lokal. Untuk bertahan hidup ia akali dengan memproduksi lebih banyak kerajinan tas dan baki karena peminatnya cukup menjanjikan dibandingkan lainnya.

Editor: Budi Warsito
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore