
Efendi orang tua dari Paisal Ardianto, korban yang ditemukan tewas di perairan Selat Malaka, Bengkalis, Riau beberapa waktu lalu.
JawaPos.com - Air mata Efendi tak dapat dibendung lagi. Hatinya sangat teriris begitu melihat baju yang menempel pada salah satu jasad yang ditemukan di Selat Malaka persis dengan baju yang dikenakan anaknya terakhir kali.
Keyakinannya semakin bulat saat mengetahui ikat pinggang yang ada di tubuh jasad tersebut merupakan pemberian istrinya sebelum anak sulungnya pergi merantau ke negara tetangga, Malaysia.
Paisal Ardianto merupakan Putra sulung Efendi. Paisal salah satu dari 11 jasad yang ditemukan mengapung di perairan Selat Malaka, Kabupaten Bengkalis, Riau. Paisal rencananya akan kembali ke kampung halamannya di Dusun Gelam Dua, Kelurahan Bandar Khalipah, Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut), setelah 1,5 tahun bekerja di negeri Jiran tersebut.
Terakhir kali, Paisal menghubungi ibunya di kampung, Kamis (21/11) lalu. Dia mengatakan ingin kembali ke rumahnya karena rindu dengan orang tua dan adik-adiknya.
"Tanggal 21 dia bilang nak (mau) balik. Dia nelepon bilang, mak aku Rabu nak balik. Jadi omaknya (ibunya) di rumah dah siap-siap. Paling tidak Jumat dia sampai. Tapi apa nak dopek (dapat), mayat yang dopek," kata Efendi dengan mata yang merah setelah menangis di RS Bhayangkara Polda Riau, Jumat (7/12) petang.
Selama disana, Paisal bekerja sebagai buruh harian lepas. Apa saja dikerjakan, mulai dari buruh bangunan hingga angkut barang. Ia kesana dengan tekad ingin meringankan beban orang tua. Sebab, ayahnya Efendi sehari-hari hanya bekerja sebagai tukang jual ikan keliling kampung. Sedangkan istrinya hanya ibu rumah tangga.
"Dia kesana pergi sendiri dari Tanjung Balai (Sumut). Selama disana belum ada balik (pulang). Jadi nengok (lihat) di video call. Waktu kesana, izinnya mau bantu orang tua kerja. Mau bantu adek sekolah," sebut pria berbadan gempal tersebut.
Di mata ayahnya, Paisal dikenal sebagai anak yang baik serta penurut. Ia sering mengirim uang ke orang tuanya jika sudah gajian. Bahkan, saat akan pulang, Paisal membawa sepatu bola untuk adiknya serta baju untuk orang tuanya. Semua hadiah itupun tenggelam bersama dengan meninggalnya Paisal.
Efendi bahkan tak pernah menyangka nyawa anaknya bakal melayang dengan cara seperti itu. Paisal diduga merupakan korban kapal TKI yang tenggelam di perairan Selat Malaka. Efendi pun mengetahui kabar kepergian anaknya dari keponakannya.
"Bisa tahu informasi, aku tukang (jualan) ikan keliling kampung. Jadi disuruh kemenakan (keponakan) balik. Tu aku bilang mengapa, tapi bersikeras dia, aku dibentaknya padahal aku dah tuo (tua)," kata Efendi.
Efendi mengarahkan sepeda motornya untuk kembali ke rumahnya. Namun, oleh keponakannya itu, Efendi dilarang untuk kembali ke rumah. Malah disuruh pulang ke rumah orang tuanya. "Sampai rumah nenek, semua menangis. Mengapa kalian menangis, ku tanya. Ini abang, tenggelam putus kepalanya ini, kata kemenakan ku sambil menunjukkan fotonya," ujarnya.
Efendi hampir kehilangan sadar. Ia berusaha meyakinkan bahwa itu bukanlah anaknya. Namun, hatinya terus bertanya sebab sejak terakhir kali korban mengatakan akan pulang, hingga kini tak ada kabar sama sekali. Handphone korban saat dihubungi juga mati.
"Anak ku pun yang disana (Malaysia), adik dia (korban) bilang kalau itu abangnya. Jadi coba cek kesana. Duit yang dipegang waktu itu hanya Rp 150 ribu," sebutnya.
Efendi bingung karena uang yang dikantongnya hanya sedikit. Jumlah itu tak akan cukup jika naik bus. Akhirnya, keluarga mau membantu dengan mengumpulkan uang seadanya. "Orang bersedekah. Ku datangi kawan ku dia punya motor. Anak ku gini-gini (ditemukan jadi mayat) ku bilang. Mau tak mau pergilah. Akhirnya ya pergi kami," bebernya
Efendi berangkat dari kampungnya, Kamis (6/12) sekitar pukul 20.00 WIB, dengan sepeda motor. Kemudian tiba di RS Bhayangkara Polda Riau Jumay (7/12) sekitar pukul 15.00 WIB. Belasan jam menempuh perjalanan, sesampainya di rumah sakit yang terletak di Jalan Hangtuah ini, Efendi langsung melapor kepada petugas bahwa ia kehilangan anaknya.

Kasus Hantavirus di Indonesia, Kemenkes: Saat ini Ada 2 Kasus Suspek di Jakarta dan Yogyakarta
14 Spot Gudeg di Bandung dengan Cita Rasa Khas Yogyakarta yang Autentik dan Menggugah Selera
Jadwal Persipura vs Adhyaksa FC Play-Off Promosi Super League, Siaran Langsung, dan Live Streaming
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
12 Kuliner Tahu Campur Paling Enak di Surabaya dengan Kuah Petis Kental yang Selalu Jadi Favorit Warga Lokal hingga Wisatawan
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Oleh-oleh Paling Ikonik dan Khas dari Kota Surabaya, Rasanya Autentik dan Tiada Duanya, Wajib Kamu Bawa Pulang!
7 Hidden Gem Kuliner Sunda di Bogor yang Enak dan Wajib Dicoba, Suasana Asri dan Menunya Autentik
12 Rekomendasi Kuliner Malam di Surabaya dengan View Terbaik untuk Nongkrong Santai dan Pemandangan yang Memukau
