Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 28 November 2018 | 23.10 WIB

Ancaman Rabies di Balik Konsumsi Daging Anjing

Photo - Image

Photo

JawaPos.com - Bagi penyuka kuliner daging anjing patut was-was. Pasalnya apabila koki yang memasak salah dalam mengolah dan dagingnya tidak matang, maka siap-siap terpapar rabies. 


Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Semarang Wawan Sutian mengatakan, risiko terpapar penyakit rabies tersebut dapat dimungkinkan terjadi. Tetapi pada dasarnya memakan daging anjing olahan tidak ada risiko terinfeksi apabila benar dalam cara memasaknya. Sebab, patogen atau virus pada anjing pasti mati saat dimasak.


"Kecuali proses pemasakannya tidak sempurna. Misalnya daging dibakar untuk sate tapi di dalamnya belum matang atau masih ada darahnya. Boleh jadi patogen virus rabiesnya ada yang belum mati. Sehingga resiko terpapar rabies masih dimungkinkan," ujarnya kepada JawaPos.com, baru-baru ini.


Selain rabies, imbuh Wawan, daging anjing juga mengandung cacing pita yang disebut sebagai Echinacoccus granulosus, ia pun membenarkan. Katanya berbentuk larva atau kista hidatid. Dan lagi, di sini cara pengolahan menjadi kunci bisa tidaknya manusia terpapar penyakit gara-gara cacing pita


"Masyarakat yang mengonsumsi daging anjing mengolahnya dengan menggulai, menggoreng, dan memangganggnya. Nah, kebanyakan orang mengkonsumsi daging anjing dalam bentuk setengah matang. Hal ini dalam segi cita rasa mungkin lebih lezat dibandingkan dengan matang sempurna. Akan tetapi hal ini akan menyebabkan penyakitit hidatidosis pada manusia pada manusia. Sebab anjing merupakan hospes perantara cacing cestoda yaitu Echinacoccus granulosus," terangnya panjang.


Sehingga, ia menegaskan agar setiap mengolah daging anjing ini diikuti dengan cara-cara yang benar. Pastikan dimasak pada suhu yang dapat membunuh larva serta kuman lainnya, karena memang sifatnya mudah rusak terhadap pemanasan.


"Manusia terinfeksi cacing pita ketika makan daging anjing mengandung Echinacoccus granulosus, artinya terinfeksi oleh cacing pita tidak dalam bentuk cacing dewasa, atau dari telurnya. Atau dalam bentuk larva oncosfer atau larva hexacant. Jadi terkena ketika makan daging yang mengandung kista hidatid yang belum mati," ujarnya menegaskan.


Analisa Wawan diamini oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono. Malahan, bisa memicu hipertensi pula lantaran kandungan natriumnya tinggi. Belum lagi penyakit yang ditimbulkan akibat kemungkinan adanya bakteri Escherichia coli (E coli).


Ia pun sepakat, bahwa penyakit-penyakit di atas sebenarnya bisa dianulir dengan cara-cara pengolahan yang benar. "E. coli dan hampir semua bakteri mati karena pemanasan. Jadi benar kalau intinya di pengolahan," terangnya.


Melihat potensi berbagai penyakit ini, imbauan kepada masyarakat katanya sudah pernah dilakukan. Tapi memang tak terprogram sedemikiam rupa. Musababnya, ia melihat konsumsi daging anjing ini di Kota Semarang tidak meluas.


Widoyono menambahkan manakala pengonsumsi daging anjing ini hanya kalangan orang tertentu saja. Dimana lanjutnya, populasinya sangat amat kecil.


"Di Kota Semarang 85 persen muslim yang seperti anda tahu tidak mengonsumsi itu. Sisa 15 persen saja belum tentu semuanya pemakan. Dasarnya melarang apa dulu, karena kan hewan lain juga bisa (mengandung berbagai penyakit). Tidak khas anjing, misalnya rabies itu kan dari monyet kan juga bisa. Tetapi, di Indonesia paling sering anjing, gitu lo," katanya.


Belum perlu karena dalam hal ini, baik Wawan dan Widoyono juga satu suara bahwa Kota Semarang dinyatakan sebagai daerah bebas rabies. Bahkan, kata Wawan, Jawa Tengah telah diumumkan Kementerian Pertanian sebagai daerah bebas rabies sejak 1997.


Ini kemudian dipastikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Wahyu Permata Rusdiana. Yang menyebut sampai sekarang di Kota Semarang tidak ada peredaran daging anjing.


"Yang ada warung yang menjual olahan daging anjing yang biasa disebut rica-rica RW (rica-rica waung). Untuk lokasi penjualnya saya kira nggak ada yang mencatat karena biasanya sembunyi-sembunyi, juga tertentu pedagangnya," imbuhnya.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore