
Photo
JawaPos.com - Bagi penyuka kuliner daging anjing patut was-was. Pasalnya apabila koki yang memasak salah dalam mengolah dan dagingnya tidak matang, maka siap-siap terpapar rabies.
Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas 1 Semarang Wawan Sutian mengatakan, risiko terpapar penyakit rabies tersebut dapat dimungkinkan terjadi. Tetapi pada dasarnya memakan daging anjing olahan tidak ada risiko terinfeksi apabila benar dalam cara memasaknya. Sebab, patogen atau virus pada anjing pasti mati saat dimasak.
"Kecuali proses pemasakannya tidak sempurna. Misalnya daging dibakar untuk sate tapi di dalamnya belum matang atau masih ada darahnya. Boleh jadi patogen virus rabiesnya ada yang belum mati. Sehingga resiko terpapar rabies masih dimungkinkan," ujarnya kepada JawaPos.com, baru-baru ini.
Selain rabies, imbuh Wawan, daging anjing juga mengandung cacing pita yang disebut sebagai Echinacoccus granulosus, ia pun membenarkan. Katanya berbentuk larva atau kista hidatid. Dan lagi, di sini cara pengolahan menjadi kunci bisa tidaknya manusia terpapar penyakit gara-gara cacing pita.
"Masyarakat yang mengonsumsi daging anjing mengolahnya dengan menggulai, menggoreng, dan memangganggnya. Nah, kebanyakan orang mengkonsumsi daging anjing dalam bentuk setengah matang. Hal ini dalam segi cita rasa mungkin lebih lezat dibandingkan dengan matang sempurna. Akan tetapi hal ini akan menyebabkan penyakitit hidatidosis pada manusia pada manusia. Sebab anjing merupakan hospes perantara cacing cestoda yaitu Echinacoccus granulosus," terangnya panjang.
Sehingga, ia menegaskan agar setiap mengolah daging anjing ini diikuti dengan cara-cara yang benar. Pastikan dimasak pada suhu yang dapat membunuh larva serta kuman lainnya, karena memang sifatnya mudah rusak terhadap pemanasan.
"Manusia terinfeksi cacing pita ketika makan daging anjing mengandung Echinacoccus granulosus, artinya terinfeksi oleh cacing pita tidak dalam bentuk cacing dewasa, atau dari telurnya. Atau dalam bentuk larva oncosfer atau larva hexacant. Jadi terkena ketika makan daging yang mengandung kista hidatid yang belum mati," ujarnya menegaskan.
Analisa Wawan diamini oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Widoyono. Malahan, bisa memicu hipertensi pula lantaran kandungan natriumnya tinggi. Belum lagi penyakit yang ditimbulkan akibat kemungkinan adanya bakteri Escherichia coli (E coli).
Ia pun sepakat, bahwa penyakit-penyakit di atas sebenarnya bisa dianulir dengan cara-cara pengolahan yang benar. "E. coli dan hampir semua bakteri mati karena pemanasan. Jadi benar kalau intinya di pengolahan," terangnya.
Melihat potensi berbagai penyakit ini, imbauan kepada masyarakat katanya sudah pernah dilakukan. Tapi memang tak terprogram sedemikiam rupa. Musababnya, ia melihat konsumsi daging anjing ini di Kota Semarang tidak meluas.
Widoyono menambahkan manakala pengonsumsi daging anjing ini hanya kalangan orang tertentu saja. Dimana lanjutnya, populasinya sangat amat kecil.
"Di Kota Semarang 85 persen muslim yang seperti anda tahu tidak mengonsumsi itu. Sisa 15 persen saja belum tentu semuanya pemakan. Dasarnya melarang apa dulu, karena kan hewan lain juga bisa (mengandung berbagai penyakit). Tidak khas anjing, misalnya rabies itu kan dari monyet kan juga bisa. Tetapi, di Indonesia paling sering anjing, gitu lo," katanya.
Belum perlu karena dalam hal ini, baik Wawan dan Widoyono juga satu suara bahwa Kota Semarang dinyatakan sebagai daerah bebas rabies. Bahkan, kata Wawan, Jawa Tengah telah diumumkan Kementerian Pertanian sebagai daerah bebas rabies sejak 1997.
Ini kemudian dipastikan oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang, Wahyu Permata Rusdiana. Yang menyebut sampai sekarang di Kota Semarang tidak ada peredaran daging anjing.
"Yang ada warung yang menjual olahan daging anjing yang biasa disebut rica-rica RW (rica-rica waung). Untuk lokasi penjualnya saya kira nggak ada yang mencatat karena biasanya sembunyi-sembunyi, juga tertentu pedagangnya," imbuhnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
