
Presiden Joko Widodo saat tiba di Gedung PRPP Semarang, Kamis (22/11).
JawaPos.com - Ribuan kepala desa dan pendamping desa se-Jawa Tengah datang ke acara Sarasehan Pengelolaan Dana Desa di Gedung PRPP Semarang, Kamis (22/11). Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang hadir memberikan pengarahan, sempat dicurhati akan susahnya menjadi pengawas desa.
Setelah memaparkan pemanfaatan dan keberhasilan pemerintah mengucurkan dana desa, Jokowi, sapaan Sang Presiden, mulanya menanyakan, mudah sulitnya pertanggungjawaban menjadi pendamping desa."Selama ini sulit nggak, kalau gampang ya ngomong gampang. Kalau sulit ya ngomong sulit," tanya Jokowi Tegas.
"Sulit!" jawab para pendamping desa kompak.
Untuk mendapat penjelasan lebih rinci akan respons dari pertanyaannya tadi, Jokowi kemudian mengundang dua pendamping desa maju ke depan. Namun, entah apa yang ada di benak eks Wali Kota Solo itu, ia meminta pendamping desa yang berasal dari Kabupaten Boyolali.
"Coba, yang dari Boyolali ada nggak? Boyolali mana? coba maju," kata Jokowi. Dua orang pun kemudian naik ke panggung, mereka adalah Sugeng dan Wulandari. Keduanya mengaku kepada Jokowi berasal dari Boyolali.
"Ini warga Boyolali, Boyolali dan ini (menunjuk diri sendiri) juga Boyolali," kata Jokowi tiba-tiba, dan disambut riuh para hadirin.
Sugeng yang mengaku datang dari Kecamatan Nogosari, Boyolali curhat kepada Jokowi, bahwa susahnya menjadi pendamping desa adalah kala harus mengurus laporan pertanggungjawaban (LPj) dana desa.
"Saya sering mendengar, dari Pak Jokowi laporan terkait dana desa itu cukup dua lembar saja. Akan tetapi nyatanya banyak," katanya disambut tawa dari hadirin. Selama jadi pengawas, lembaran kata Sugeng jumlahnya sudah tak bisa ia hitung.
Kemudian, curhatan datang lagi, kali ini datang dari Wulandari. "Asli Boyolali, tampang Boyolali," celetuknya, sehingga disambut tawa yang membuat Jokowi lupa sejenak akan pertanyaannya.
Ditanya pertanyaan serupa seperti yang diberikan kepada Sugeng, Wulandari berujar tak mengalami kesullitan dalam tugas lapangan maupun penyusunan laporan. "Yang sulit itu notanya keselip. Sering, saat saya tanya, dijawab notanya belum ada mbak,” katanya.
Selain itu, beber Wulandari, para Kepala Desa seringkali memecah penggunaan Dana Desa untuk banyak kegiatan, alias tidak dijadikan satu. Tentunya berujung pada pembuatan LPj yang makin menumupuk.
“Laporannya jadi banyak karena kegiatannya dibuat kecil-kecil. Semestinya bisa dijadikan satu kegiatan sehingga laporannya bisa satu,” curhatnya lagi.
Mendengar berbagai keluhan itu, Jokowi mengakui pembuatan Laporan pertanggungjaaban prosedurnya memang rumit, sehingga menjadi lambat prosesnya. Dua tahun silam, ia sudah menginstruksikan Menteri Keuangan supaya membuat aturan sederhana tapi tetap tak mengabaikan faktor akuntabilitas laporan.
Sayangnya, upaya Jokowi masih belum terlalu berbuah manis. Lantaran, masih terhalang aturan undang-undang. Padahal, katanya ini juga bisa menjadi patokan daya saing sebuah negara.
"Yang namanya memenangkan persaingan atau kompetisi itu bukan yang besar yang mengalahkan yang kecil. Bukan negara yang kuat mengalahkan yang kecil. Tapi yang cepat, mengalahkan yang lambat. Saya ingin negara kita ini cepat dalam segala hal. Tahun depan, saya berkonsentrasi merubah undang-undang agar percepatan itu bisa kita lakukan," tegasnya.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
