
ILUSTRASI: Dampak badai Siklon Cempaka di Kota Jogjakarta pada akhir 2017 silam.
JawaPos.com - Imbauan Menteri Keuangan, Sri Mulyani agar penanggulangan bencana tak lagi mengandalkan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ditanggapi langsung oleh Pemerintah Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Terkait imbauan tersebut, Pemda meminta rehabilitasi dan rekonstruksi (RR) bencana dikembalikan ke regulasinya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Biwara Yuswantana mengatakan, RR pascabencana akan ditentukan pula oleh kewenangan atas infrastruktur yang rusak. Apakah itu aset milik kabupaten atau kota, provinsi, atau pusat. "Sebaiknya dikembalikan ke regulasinya," katanya, Kamis (11/10).
Selain itu, lanjutnya, ketika sebuah daerah mengalami bencana alam maka akan berdampak juga pada menurunnya kapasitas fiskal daerah. Karena sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) daerah biasanya ikut terdampak. "Bisa lumpuh terdampak bencana," kata dia.
Kasus DIJ waktu gempa 2006 misalnya, dijelaskan Biwara, ekonomi masyarakat Kabupaten Bantul yang sumbernya dari industri kecil dan menengah juga lumpuh. Sebab alat produksi, rumah dan barang-barang produknya rusak. "Sehingga tidak ada nilai ekonomisnya," kata Biwara.
Saat gempa 2006 yang menewaskan sedikitnya 4 ribu jiwa itu, Pemda DIJ melakukan perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Sehingga terkumpul sekitar Rp 270 miliar, dengan menunda atau menghilangkan kegiatan-kegiatan yang bisa ditunda. "Itu sudah maksimal yang bisa dilakulan dari Provinsi untuk mem-backup kabupaten," katanya.
Lanjutnya, mungkin saat ini perlu me-review kebijakannya. Khususnya pada aspek mitigasi sehingga dampak kerugian karena bencana alam bisa diminimalisir. "Termasuk pemberdayaan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana," ucapnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, alokasi dana cadangan bencana dalam APBN selama 2000 hingga 2016 rata-rata mencapai Rp 3,1 triliun per tahun. Dengan demikian, masih ada gap sekitar 78 persen dari kebutuhan untuk memulihkan kondisi wilayah seusai gempa.
"Kadang kita harus mengalokasikan kembali anggaran yang tidak terlalu penting untuk anggaran bencana," katanya dalam dialog bertema Pembiayaan dan Asuransi Risiko Bencana di Indonesia di sela-sela pertemuan tahunan IMF-World Bank Group di Nusa Dua, Bali, kemarin.
Menurut dia, penanggulangan bencana itu sudah tidak bisa lagi terus mengandalkan dana APBN. Selain anggaran terbatas, mekanisme pencairan untuk pengajuan tambahan dana membutuhkan waktu sekitar dua pekan dan dianggap kurang fleksibel.

5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
11 Tempat Berburu Sarapan Bubur Ayam Paling Enak di Bandung, Layak Masuk Daftar Wisata Kuliner!
10 Rekomendasi Bubur Ayam Paling Favorit di Surabaya, Terkenal Lezat dan Jadi Langganan Pecinta Kuliner Pagi
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Kuliner Nasi Goreng Paling Enak di Bandung, Tiap Hari Pelanggan Rela Antre Demi Menikmati Kelezatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
