
Suasana Pasar Turi Baru yang sepi menjadi pemandangan sehari-hari
JawaPos.com - Gedung utama sembilan lantai itu merupakan bangunan yang paling mencolok di antara lainnya. Bangunannya terlihat masih baru, didominasi warna kuning menyala. Halaman parkirnya juga terbilang cukup luas.
Kondisi kontras tampak dengan beberapa bangunan yang ada di sekitarnya. Persis di depan pintu masuk, beberapa lapak pedagang berjejer. Kumuh. Bangunan semi permanen itu memakan jalan, sehingga menganggu pemandangan gedung.
Ya, begitulah wajah Pasar Turi Baru Surabaya. JawaPos.com mengunjungi pasar legendaris itu beberapa waktu lalu. Meski terlihat megah di luar, kondisi di dalam Pasar Turi Baru sepi. Mirip kuburan.
Ketika masuk ke dalam, stan-stan kosong melompong. Rolling door stan-stan itu banyak yang digembok rapat. Ditinggalkan penjual karena sepinya pembeli.
Berdasarkan pantauan, kios di lantai satu sampai sembilan hanya sebagaian kecil saja yang dibuka. Lainnya tertutup rapat. Bahkan, di beberapa lantai, hampir tidak ditemukan seorang pembeli sama sekali. ”Kondisinya sekarang memang sangat sepi. Banyak penjual yang tutup karena rugi,” kata Ita Sulistiani, salah satu pedagang di sana.
Ita merupakan sebagaian kecil pedagang yang masih bertahan di tempat itu. Banyak teman-teman pedagangnya yang lebih memilih tutup.
Hal senada juga disampaikan oleh Sulistyowati. Penjual nasi yang menggelar dagangannya di lantai empat juga merasakan kelesuan ekonomi. Perempuan asal Waru, Sidoarjo, itu mengaku omzet dagangannya menurun drastis.
"Sekarang sudah sangat menurun karena nggak ada pembeli. Paling yang makan cuma pekerja-pekerja di sini. Ya kadang-kadang memang ada dari luar pulau. Setelah belanja naik ke sini dan makan. Tetapi nggak tiap hari," ujarnya setengah curhat.
Pemilik warung Bu Ninik itu menambahkan, tiga tahun lalu di lantai empat sangat ramai. Ratusan pedagang memenuhi tempat itu. "Pembelinya pun banyak. Kalau pengunjung habis belanja, pasti makannya di sini. Dulu ada sekitar 600 stan penuh," tambah Sulistyowati.
Sayangnya, kondisi itu tidak bertahan lama. Lambat laun, para pengunjung mulai berkurang. "Kalau dulu dalam sehari bisa dapat Rp 5 juta. Sekarang Rp 300 ribu saja sudah bagus," lanjutnya.
Menurut Sulistyowati, sejak setahun lalu puluhan pedagang mulai tutup dan meninggalkan stan mereka. "Waktu ramai saya dulu sempat bayar orang untuk bantu-bantu. Tapi sekarang sudah nggak. Semua ditangani sendiri, nggak ada (uang) buat bayar," keluhnya.
Sulistyowati melanjutkan, manajemen Pasar Turi Baru menggunakan sistem syariah. Artinya mereka tidak memungut biaya sewa dari pedagang. Sebagai gantinya, pedagang wajib menyetor 15 persen dari total omzetnya. “Kami tidak bayar listrik dan sewa. Hanya sistem bagi hasil, manajemen cuma narik 15 persen. Tetapi tetap tidak ada yang mau," katanya.
Dia berharap agar Pemkot Surabaya bisa membuat terobosan untuk memajukan Pasar Turi. Menurutnya, Pasar Turi harus tetap berdiri. "Saya berharap agar ada kebijakan yang bisa membuat lebih maju. Bagaimanapun ini kan ikon Surabaya. Kalau Jakarta punya Tanah Abang. Surabaya punya Pasar Turi," pungkasnya.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
