Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 20 Agustus 2018 | 09.08 WIB

Penjelasan BMKG soal Gempa 7.0 SR Lombok: Lokasinya Beda

Tamu hotel Aston Inn di Kota Mataram dievakuasi ke titik kumpul di lapangan parkir. - Image

Tamu hotel Aston Inn di Kota Mataram dievakuasi ke titik kumpul di lapangan parkir.

JawaPos.com - Gempa dengan kekuatan 7 SR yang mengguncang Pulau Lombok, Minggu (19/8), pukul 22.56 WITA bukanlah gempa susulan. Data itu berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).


Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut, pihaknya sudah melakukan update dari gempa 7 SR, pukul 22.56 WITA. Hasilnya, ternyata kekuatan gempa 6.9 SR dengan kedalaman 18 Km. Lokasinya 8.44 LS dan 116.68 BT.


"Setelah diperbaharui gempa menjadi 6.9 SR berdasarkan data dari 144 sensor," sebut Dwikorita dalam keterangan persnya yang diterima JawaPos.com, Senin (20/8).


Lebih jauh dikatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter, gempa bumi 6.9 SR terletak di ujung timur Pulau Lombok. Gempa itu diikuti sebaran episenter yang mengikutinya dan membentuk kluster episenter dengan sebaran ke arah timur hingga di sebelah utara Sumbawa Barat.


"Maka dapat disimpulkan bahwa gempa yang terjadi merupakan aktivitas gempa baru yang berbeda dari gempa berkekutan 7.0 SR terjadi pada 5 Agustus 2018," sebut mantan rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta itu.


Meskipun seluruh aktivitas gempa yang terjadi berkaitan dengan struktur geologi sesar naik Flores, tetapi antara gempa 7.0 SR dan gempa 6.9 SR memiliki bidang deformasi yang berbeda.


Hasil analisis mekanisme sumber gempa ini menunjukkan gempa ini dibangkitkan oleh deformasi batuan dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).


Dampak dari gempa 6.9 SR berdasarkan laporan dari masyarakat dan hasil analisis peta guncangan menunjukan bahwa guncangan dirasakan di daerah Lombok Utara dan Lombok Timur.


Sementara itu di Lombok Barat, Mataram, Praya, dan Sumbawa memiliki intensitas V-VI MMI. Guncangan juga dirasakan di Denpasar dan Waingapu dengan skala III-IV MMI, di Ruteng dengan skala II-III MMI, dan di Makassar I-II MMI.


Skala intensitas VI-VII MMI artinya struktur bangunan standar dapat mengalami rusak sedang dan bangunan tidak standar dapat mengalami rusak sedang hingga berat. Sedangkan skala intensitas III-IV MMI, artinya semua orang merasakan namun belum terjadi kerusakan, tapi dalam kondisi bangunan yang sudah terguncang beberapa kali bisa saja menimbulkan kerusakan.


Hingga tanggal 20 Agustus 2018 pukul 01.25 WITA, hasil monitoring BMKG menunjukkan telah terjadi 22 aktivitas gempa susulan (aftershock), di antaranya 3 gempa bumi dirasakan.


"Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," tandasnya.


Terpisah, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebut, di Kecamatan Sembalun Lombok Timur, evakuasi warga yang sedang dirawat di Pustu Sembalun menuju Rumah sakit Lapangan Yonkes di Lapangan Sembalun. Masyarakat juga diarahkan mengungsi di lapangan Sembalun.


"Beberapa rumah dan bangunan roboh. Banyak bangunan roboh di Kecamatan Sambelia. Masyarakat berkumpul di lapangan dan di tempat yang aman. Masyarakat merasakan trauma dengan gempa," sebutnya.


Sutopo menambahkan, Kepala BNPB Willem Rampangilei telah berkoodinasi dengan Panglima TNI terkait pengiriman bantuan logistik dan peralatan menyusul gempa susulan 7 SR.

Editor: Fersita Felicia Facette
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore