
ILUSTRASI. Nelayan diharapkan waspada dalam beraktivitas, sebab badai laut diperkirakan masih akan terjadi dalam tiga hari ke depan, khususnya di wilayah Kaltim-Kaltara.
JawaPos.com - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tarakan memprediksi cuaca ekstrem masih akan berlangsung pada tiga hari ke depan. Perkiraan tersebut berdasarkan pengamatan pada satelit citra yang dilakukan oleh BMKG.
Hujan lebat disertai angin kencang, kilat dan guntur akan masih terjadi dengan masuk kategori cuaca ekstrem.
Prakirawan BMKG Kota Tarakan, William Sinaga mengungkapkan cuaca yang terjadi pada Senin (13/8) sekira pukul 19.30 Wita kemarin malam merupakan cuaca ekstrem. Karena hujan yang disertai angin kencang mencapai 34 knot.
"Jadi tadi malam itu memang hujan sangat lebat disertai angin sangat kencang dengan durasi sekitar satu jam. Dan memang cukup ekstrem," ungkap William dikutip dari Radar Tarakan (Jawa Pos Group), Rabu (15/8).
William mengaku sempat mengeluarkan dan merilis peringatan dini sejak pukul 18.20 Wita terhadap kondisi cuaca ekstrem tersebut.
"Pertumbuhan awan terus bergerak dari wilayah Malinau Selatan terus berkembang dan bergerak lagi menuju wilayah Sekatak, Tanjung Palas Utara dan sampai ke Tarakan. Kondisi cuaca tadi malam (Senin) itu memang kami sudah berikan warning," jelasnya.
Lebih lanjut Wiliam menjelaskan, jika potensi cuaca ekstrem di Kaltara masih akan terjadi. Mengingat masa udara lapisan rendahnya cukup berpotensi untuk menimbulkan hujan lebat disertai angin kencang.
"Malam ini (tadi malam) masih berpotensi untuk hujan lebat. Dengan demikian jika ada kondisi cuaca ekstrem kami akan update terus," imbuhnya.
Selama tiga hari ke depan perkiraan gelombang di laut masih berada pada ketinggian 0,5 meter hingga 1 meter. Sehingga jika kekuatan gelombang tidak terlalu tinggi, namun objek (kapal nelayan) yang dimiliki kecil, maka gelombang itu juga akan membahayakan.
"Cuaca ini kan sudah berubah-ubah. Jadi nelayan juga wajib waspada," ucapnya.
Menurut Wiliam, nelayan yang memiliki ukuran kapal lebih kecil, lebih rentan terhadap gelombang dan angin. Berbeda dari kapal berukuran besar, tidak akan berpengaruh pada gelombang dan angin.
Merusak Rumah
Akibat hujan disertai angin kencang ini pula, menyebabkan salah satu atap rumah warga di RT 06, Kelurahan Pantai Amal rusak. Namun tidak menimbulkan korban jiwa.
Sum (65) warga RT 06 yang ditemui di rumahnya mengatakan, sekira pukul 23.00 Wita, angin kecang disertai hujan lebat membuat rumahnya bergoyang. Bahkan atap rumahnya yang tebuat dari seng sebagian sudah ada yang terbuka. Hingga air hujan masuk ke dalam rumahnya.
“Menangis aja semalaman nenek ini nak. Takut rumah ini roboh karena angin kencang. Sebagian atap itu sudah ada yang lepas,” kata Sum saat ditemui Radar Tarakan, Selasa (14/8).

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
