
Dirlantas Polda Sumbar Kombes Pol Singgamata
JawaPos.com - Dirlantas Polda Sumbar Kombes Pol Singgamata menegaskan arus lalin mudik dan balik tahun ini lebih lancar dibanding tahun lalu. Sebelumnya, Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit menyebut macet tahun ini lebih parah.
Singgamata menyebutkan, arus kemacetan tidak terjadi di sepanjang jalur utama Padang-Bukittinggi, melainkan terjadi di lokasi-lokasi wisata.
"Kalau jalur utama dan ruas jalan lain bisa kami atasi dengan baik. Tapi kalau sudah bersentuhan dengan objek wisata, tangan kami jajaran Polantas tentunya tidak kuasa mengatasi sendirian," terang Singgamata, Jumat (22/6).
Selain lokasi wisata, kemacetan juga dipicu persoalan pasar tumpah. Seperti halnya pasar Koto Baru Tanah Datar, Padang Luar Bukittinggi dan sejumlah titik lain. Menurut Singgamata, solusi permanen atas masalah ini adalah keseriusan pemerintah daerah untul membenahi keberadaan pasar tumpah.
"Jika Pemda serius atasi macet, kita uji coba di Pasar Koto Baru. Ini skala prioritas. Tak perlu titik lain dulu. Ini (Koto Baru) saja dulu karena katanya sudah 13 tahun belum beres-beres sampai kini," tegas Singgamata.
Singgamata mendesak Pemprov Sumbar dan Pemkab Limapuluh Kota untuk segera mengetok palu atas alokasi anggaran renovasi Pasar Koto Baru. Setelah perluasan Pasar Koto Baru rampung, baru penanganan selanjutnya adalah Pasar Padang Luar dan Pasar Baso yang juga menyumbang potensi kemacetan.
Seperti diketahui, jalan Padang menuju Bukittinggi dan sebaliknya merupakan yang jalur paling "menakutkan" pengendara. Terutama pengemudi mobil.
Pasalnya, setiap edisi mudik dan masa libur lebaran, jarak tempuh dalam keadaan normal yang tak sampai 2,5 jam itu, bahkan bisa menghabiskan waktu hingga 8 jam.
Kondisi tersebut hampir terjadi setiap tahun. Nyaris, omelan macet menghiasi laman media sosial (medsos) pengemudi yang melewati jalan lintas Sumatera tersebut. Atas persoalan menahun itu, Ditlantas Polda Sumatera Barat (Sumbar) fokus mengurai kemacetan di beberapa titik penyebab tersendatnya arus mudik Padang - Bukittinggi.
Singgamata menambahkan, sejak awal pihaknya memang fokus mencari cara mengurai lokasi yang berpotensi macet. Dari survey pemetaaan kerawanan macet di jalur Padang - Bukittinggi, terdapat empat titik macet utama.
Masing-masing, kawasan pasar Lubuk Alung di Kabupaten Padang Pariaman, Lembah Anai, Kabupaten Tanah Datar. Lalu, pasar Koto Baru di Kota Padang Panjang dan pasar Padang Luar di kota Bukittinggi sendiri.
"Untuk titik macet yang menjadi atensi itu, kita selalu berkoordinasi dengan jajaran Sat Lantas Polres setempat," kata Singgatama.
Terpisah, Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit mengatakan, soal pasar Koto Baru di Kabupaten Tanah Datar, pihak Kabupaten setempat tengah merampungkan proses pembebasan lahan. Sedangkan Pemprov sendiri telah menyiapkan anggaran Rp 10 miliar di tahun 2019 mendatang. "Tahun depan, pasar Koto Baru kita tarik ke belakang," katanya.
Sebelumnya, Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit mengatakan, kemacetan arus lalu lintas (lalin) di sejumlah ruas jalan Sumbar pada lebaran 2018 ini, justru lebih parah dibandingkan kondisi lebaran tahun 2017 silam.
"Lebaran tahun lalu, Padang-Bukittinggi hanya sekitar 8 jam perjalanan. Lebaran tahun ini, macetnya sampai 12 jam," katanya.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
