Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 15 Mei 2018 | 23.17 WIB

Ribuan Pelayat Antar Pemakaman Ki Enthus

Suasana penghormatan jenazah Ki Enthus Susmono di Pendapa Amangkurat, Tegal. - Image

Suasana penghormatan jenazah Ki Enthus Susmono di Pendapa Amangkurat, Tegal.

JawaPos.com - Bupati Tegal nonaktif Enthus Susmono wafat pada Senin (14/5) kemarin sekitar pukul 19.15 WIB. Pria yang akrab disapa Ki Entus itu meninggal akibat serangan jantung dan sempat menjalani perawatan di RSUD dr Soesilo Slawi.


Selasa (15/5) ini, jenazah Ki Enthus tiba di Pendapa Amangkurat. Ribuan pelayat siap mengantarkan jenazah ke peristirahatan terakhir. Pemakamannya di Desa Bengkle, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah (Jateng). Isak tangis mengiringi prosesi pelepasan jenazah pria yang dikenal sebagai dalang kawakan itu.


Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jateng Heru Sudjatmoko beserta Penjabat Sementara Bupati Tegal Sinoeng N Rachmadi hadir dalam prosesi tersebut. Ada pula sejumlah kepala daerah serta Forkopimda setempat.


Dalam sambutannya, Heru Sudjatmoko mengaku kaget saat menerima kabar duka ini. Pasalnya, sang budayawan tak menunjukkan tanda-tanda mengidap suatu penyakit semasa hidupnya.


“Saya yakin, tidak hanya saya. Tetapi bapak ibu semua juga merasa kehilangan. Namun kami orang-orang beriman, harus mengikhlaskan Ki Enthus yang kami cintai,” kata Heru saat prosesi kehormatan dan pelepasan terakhir almarhum di Pendapa Amangkurat Pemkab Tegal.


Di hadapan ribuan pelayat, Heru mengisahkan sosok Ki Enthus sebagai pribadi yang luar biasa. Bahkan Heru mengakui bahwa dirinya adalah salah satu penggemar almarhum.


Jateng mempunyai program pentas wayang, salah satu yang saya pilih adalah Ki Enthus. Jadwal pementasannya setelah pilkada guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” beber mantan Bupati Purbalingga itu.


Selain dikenal ramah, Ki Enthus merupakan pribadi yang periang. Kehadirannya selalu membawa keceriaan bagi orang-orang di sekitarnya. Seperti saat menghadiri acara di Semarang. Apabila sang dalang melakukan paparan atau sesi tanya jawab, pasti suasana diselimuti aura postif.


“Ki Enthus sangat dicintai rakyat. Tapi Allah berkehendak lain. Mungkin ini yang terbaik bagi Ki Enthus sekeluarga serta semua orang yang ditinggalkan,” ucapnya diikuti doa untuk almarhum.


Sementara itu, putra Enthus, Firman Haryo Susilo menceritakan sekilas tentang ayahnya semasa menjadi dalang hingga menjabat bupati. Dikisahkannya, sang ayah adalah seorang pekerja keras, pembelajar dan pribadi yang kepo.


Selama hidupnya bekerja tanpa mengenal waktu, lelah dan tidak pernah sakit ataupun mengeluh sama sekali. “Kalau mengeluh capek, iya. Biasanya Abah cuma minum obat terus tidur. Kemudian bangun sudah guyonan lagi,” ungkapnya.


Bahkan, Firman mengaku iri terhadap semangat belajar Ki Enthus. Terlebih sampai detik akhir usia hidupnya, almarhum tidak menunjukkan tanda-tanda letih untuk terus belajar hingga menghasilkan karya-karya luar biasa dan berbagai prestasi.


“Ketika saya melihat Abah mengaji dan belajar tentang pemerintahan, mencatat pakai tulisan tangan bukan ketikan, itu yang memotivasi saya untuk terus belajar,” terangnya sembari terisak.


Sebenarnya, masih banyak capaian yang ingin diraih almarhum. Seperti pengentasan kemiskinan, penurunan angka pengangguran, memperbanyak pemugaran rumah tidak layak huni, dan jambanisasi.


“Semua kejelekan almarhum mohon dimaafkan. Terima kasih kepada pemerintah dan masyarakat Tegal. Semoga pengabdiannya selama lima tahun bisa mengantarkan Abah ke surga,” harapnya.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore