Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 2 Maret 2018 | 22.15 WIB

Puluhan Siswa SMAN 1 Semarang Tuntut Kepseknya Mundur

Puluhan siswa melakukan aksi unjuk rasa di depan SMAN 1 Semarang, Jumat (2/3). - Image

Puluhan siswa melakukan aksi unjuk rasa di depan SMAN 1 Semarang, Jumat (2/3).

JawaPos.com - Puluhan siswa kelas XII SMAN 1 Semarang melakukan unjuk rasa di depan sekolah mereka sendiri, Jumat (2/3). Aksi mereka dilancarkan sebagai bentuk solidaritas terhadap Anin dan Afif, dua siswa salah satu sekolah favorit itu yang baru-baru ini dikeluarkan lantaran tuduhan kekerasan terhadap adik kelasnya.


Walau tak berlangsung lama karena keburu dibubarkan jajaran kepolisian Polrestabes Semarang, aksi mereka terbilang kompak. Mereka bersamaan menyanyikan Mars SMAN 1 Semarang, menyanyikan yel-yel dan meneriakkan dukungan kepada Anin dan Afif.


Mereka menggeruduk gerbang depan sekolah sekitar pukul 13.00 WIB. Ratusan siswa tersebut datang dengan membawa spanduk besar berukuran sekitar 3x2 meter bertuliskan #solidarity dan Kepsek Turun-Maret 2018.


Dalam orasinya, mereka menuntut pihak sekolah untuk tidak mengeluarkan Anin dan Afif. Para siswa juga mendesak Kepala Sekolah SMAN 1 Semarang Endang Suyatmi  untuk turun dari jabatannya.


"Para petinggi kami, tolong kami hanya ingin ketenangan, kembali lagi kami hanya ingin suara kegembiraan terdengar lagi. Kami tidak ingin cap keburukan menimpa generasi kami. Sebentar lagi, kami akan pergi, tapi bukan pergi untuk menghilang. Kami pergi membawa almamater kami. Kami pergi dengan harapan-harapan kami,” bunyi orasi mereka yang dibacakan salah satu murid.


Dalam aksinya, para siswa menilai terlalu banyak panggung sandiwara yang dilakukan oleh petinggi sekolah.”Tempat ini, bukan tempat beradu suara. Tempat ini adalah tempat kami memahami, siapakah diri kami, untuk apa kami ada, dan apa yang akan kami lakukan nanti. Para petinggi kami, masyarakat menunggu kami,” lanjut orasi tersebut.


Aksi mereka sontak mengundang perhatian guru-guru di dalam sekolah yang lantas mendatangi mereka. Unjuk rasa ini juga sempat menimbulkan kemacetan di sepanjang Jalan Menteri Supeno.


Tak selang berapa lama atau sekitar 10 menit protes berjalan, dua truk jajaran Polrestabes Semarang datang dan petugas segera membubarkan unjuk rasa tersebut, lantaran aksi ini diketahui memang tak berizin.


"Untuk para siswa sekalian, dimohon untuk segera membubarkan diri. Unjuk rasa atau menyampaikan pendapat di muka umum ini tidak ada pemberitahuan. Ini melanggar Undang-undang Nomor 9 Tahun 1998. Seharusnya Anda harus melakukan pemberitahuan 3x24 jam sebelum acara," kata Kanit Dalmas Sat Sabhara Polrestabes Semarang, AKP Yustinus melalui alat pengeras suara menghentikan aksi siswa.


Mendengar hal tersebut, ratusan siswa itu pun lantas membubarkan diri dan meninggalkan lokasi unjuk rasa. Sejumlah guru pun terlihat sempat mengabadikan momen tersebut melalui ponsel mereka.


"(Siswa-siswa pendemo) keterlaluan. Aksi mereka tak berizin dan mereka tidak menghormati guru mereka," kata salah satu guru yang menolak menyebutkan namanya.


Dikeluarkannya Anin dan Afif hingga kini memang masih disorot. Pasalnya, keputusan SMAN 1 Semarang mengeluarkan dua siswa yang diketahui pernah menjabat sebagai pengurus OSIS itu dinilai sepihak.


Selain Anin dan Afif, masih ada 7 siswa lagi yang juga dikenai sanksi oleh pihak sekolah, lantaran dituduh turut terlibat melakukan tindak kekerasan terhadap adik kelasnya saat kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) November 2017 lalu. Kasus ini sendiri diketahui masih bergulir, dimana masing-masing pihak ngotot melakukan hal yang benar.

Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore