Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Februari 2018 | 07.08 WIB

KNKT Desak Pemerintah Sediakan Tempat Khusus Istirahat Sopir Bus

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono saat mengisi forum grup discusion bersama Dishub Jateng, di VIP Terminal Penumpang Tanjung Emas, Semarang. - Image

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono saat mengisi forum grup discusion bersama Dishub Jateng, di VIP Terminal Penumpang Tanjung Emas, Semarang.

JawaPos.com - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) meminta pemerintah pusat segera menyediakan tempat istirahat khusus bagi sopir bus. Alasannya, tingginya angka kecelakaan di jalan raya ditengarai akibat faktor kelelahan pengemudi.


Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, hasil investigasi terakhir pihaknya mengungkapkan bahwa kelalaian seorang sopir bus dalam berkendara besar kemungkinan disebabkan oleh faktor kelelahan. Meski bisa dikata menjadi rahasia umum, Ia menilai pemerintah selama ini kurang memperhatikan hal tersebut.


"Seharusnya hal-hal semacam ini (tempat istirahat sopir) bisa ditanggapi dengan baik oleh pemerintah kota maupun pusat. Bisa jadi tupoksinya kewenangan Kemenhub, Kemenaker atau pemerintah kabupaten/kota," ungkapnya, saat forum grup discusion bersama Dishub Jateng, di VIP Terminal Penumpang Tanjung Emas, Semarang, Kamis (22/2).


Menurutnya istirahat cukup adalah bekal sopir sebelum mengemudikan kendaraanya, apalagi dengan jarak tempuh yang jauh. Dengan demikian, ia pun menyoroti adanya jam kerja yang melewati ketentuan, sehingga memicu kelelahan yang dialami si pengemudi.


"Banyak (jam kerja) yang melewati batas aturan dan saya heran kenapa tidak ada tindakan sama sekali dari Kemenaker," Padahal dalam aturannya, lanjutnya, setiap sopir maksimal mengemudi 8 jam per hari, 40 jam per minggu dan 100 jam per bulan.


Soerjanto menyebut penerapan jam kerja sopir bus yang melebihi batas telah menjadi fokus investigasinya selama dua tahun terakhir. Ia mencontohkan saat musim mudik tiba, dimana sering bagi sopir bus untuk menempuh waktu 28 jam dari Jakarta sampai Blitar, Jawa Timur. 


Sesampainya di Blitar, seorang sopir biasanya hanya istirahat sekitar satu jam sebelum segera kembali lagi ke Jakarta.


"Tentunya jam kerjanya di luar batas kemampuan manusia. Malahan ada pula pengemudi yang terus-terusan kerja kerja macam itu tiga bulan penuh. Itu kan terjadi kelelahan luar biasa," tuturnya.


Oleh karenanya, ia mengimbau dengan sangat kepada para pengusaha otobus untuk memanusiakan sopir mereka. "Kan bisa pakai dua pengemudi, atau paling tidak ada tempat tidur supaya sopir bisa bergantian beristirahat," tandasnya.


Editor: Sari Hardiyanto
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore