
M Natsir dirawat di ruang Aqsa 1 Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Kamis (22/1).
JawaPos.com - Peristiwa seorang pasien yang tengah koma di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) namun disuruh pulang oleh pihak rumah sakit hebohkan masyarakat Kota Banda Aceh, Aceh.
Hal itu membuat masyarakat bereaksi ketika peristiwa itu terblow up di media sosial. Adalah M Natsir, pasien yang tengah menjalani perawatan dan disuruh pulang oleh pihak rumah sakit.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, peristiwa itu terjadi pada Rabu (21/2) kemarin. Namun, ketika dikonfirmasi kepada Novia anak dari M Natsir, hal itu merupakan salah paham.
Novia, anak kandung pasien pun membantah jika orangtuanya diminta paksa pulang oleh pihak RSUDZA Banda Aceh. Ia mengatakan, orangtuanya kini masih dirawat di ruang Aqsa 1 RSUDZA dalam kondisi tak sadar atau koma.
"Alhamdulillah ayah masih dirawat. Saya telah mendapat klarifikasi dan pencerahan dari pihak rumah sakit khususnya dokter yang bertanggungjawab," kata Novia di Banda Aceh, Kamis (22/2).
Novia menjelaskan, kabar yang menyebutkan orangtuanya dipaksa pulang pihak rumah sakit terjadi karena miskomunikasi atau salah paham. Hal ini sempat membuat keluarganya tak terima dan keberatan.
Diceritakannya, permintaan pasien diminta harus pulang disampaikan oleh doktor Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang ada di RSUDZA kepada istri pesien, Nilawati. Padahal dokter PPDS tidak memiliki kewenangan soal itu. Pihak yang berwenang mengatakan hal itu adalah dokter penanggungjawab.
"Bahwa dr Masra Lena tidak menyuruh paksa ayah saya pulang. Melainkan (ini) miskomunikasi," ujarnya.
Menurutnya, peristiwa ini terjadi karena dokter PPDS tidak melakukan komunikasi dan koordinasi terlebih dahulu dengan dr Masra Lena. Sehingga penyampaian ini dianggap keluarganya sebagai pemaksaan.
"Semoga ini bisa menjadi pelajaran buat keluarga pasien yang lain. Hendaknya menanyakan langsung kepada dokter yang bertanggung jawab dan tidak menelan langsung saran dokter PPDS," tambahnya.
Sementara itu, Direktur RSUDZA Banda dr Fachrul Jamal menjelaskan, pihaknya tidak pernah meminta paksa pasien untuk segera pulang dan meninggalkan ruangan. Apalagi kondisi pasien masih dalam kondisi koma.
“Dokter tidak pernah bercerita dan meminta pasien itu dibawa pulang paksa dan beliau tidak pernah menyampaikan itu,” kata Fachrul Jamal di Aula RSUDZA .
Fachrul menerangkan, anggapan pemaksaan itu timbul karena ada kesalahpahaman antara keluarga pasien M Natsir dengan staf dr Masra Lena. Sebelumya dr Masra Lena sempat menjelaskan kepada stafnya bahwa pasien sudah bisa dirawat di rumah.
“Bahwa pasien tersebut sudah memungkinkan jika untuk dilakukan rawat di rumah (Home Care). Kemudian saat diberitahukan ke pihak keluarga, terjadinya proses penyampaian informasi tidak lengkap atau pesan terputus. Kemudian ditanggapi keluarga pasien bahwa rumah sakit menyuruh mereka pulang mereka,” terang Fachrul.

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
