
Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta GPH Dipo Kusumo (tengah) memberikan keterangan pers, Rabu (22/11)
JawaPos.com - Setiap gelaran Sekaten ada satu tradisi yang tidak pernah terlewatkan. Tradisi tersebut adalah nginang, yakni mengunyah kinang yang terdiri dari beberapa unsur. Mulai dari sirih, gambir, injet, tembakau dan bunga kantil.
Tradisi nginang dilakukan beberapa saat setelah penabuhan dua gamelan Keraton Kasunanan Surakarta, yakni Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari, sebagai tanda dibukanya Sekaten.
Menurut Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta GPH Dipo Kusumo, kinang ini mempunyai filosofi. Adalah sebuah pengharapan agar bisa bertemu dengan Sekaten di tahun depan. “Dengan menginang ada doa agar bisa mengikuti Sekaten lagi tahu depan,” terang Gusti Dipo, Jumat (24/11).
Bagi yang percaya dengan mitos ini, akan melakukannya meskipun sensasi yang dirasakan tidak terlalu menyenangkan. Bahkan bagi yang tidak terbiasa bisa muntah. Karena rasa dan aroma yang dihadirkan oleh kinang memang tidak semua bisa menerimanya.
Meski begitu, tidak sedikit perempuan yang begitu antusias untuk bisa menikmati kinang. Mereka bahkan sudah lama mengantre di kompleks Masjid Agung hanya agar bisa merasakan kinang.
Salah satunya adalah Widarti,54. Dia bukan warga dari Solo, dan rela datang dari Klaten hanya untuk bisa menikmati kinang keraton. Baginya, ini menjadi bagian yang tidak pernah dilewatkannya sejak muda. “Sejak dulu saya memang sudah rutin ke sini, dan menginang sudah menjadi hal yang biasa,” ucapnya kepada JawaPos.com.
Bagi Widarti, kinang sudah menjadi bagian dari hidupnya. Meskipun rasanya tidak enak atau bisa dikatakan pahit, tetapi Widarti tidak pernah meninggalkan kebiasaan ini. “Biar sehat, meskipun pahit tetap saya menyukainya,” katanya.
Sementara itu, GKR Wandansari menambahkan bahwa tradisi nginang punya kelebihan dari sisi kesehatan. “Menginang ini untuk menjaga kesehatan, khususnya kesehatan mulut, gigi dan juga kesehatan pencernaan. Karena di dalam siri itu terdapat antibiotiknya,” terang perempuan yang akrab disapa Gusti Moeng itu.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
