Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 17 November 2017 | 20.05 WIB

Kuliner Arab yang Super Nikmat ini, Cuma Ada di Hari Jumat

Penampkan Nasi Bukhori yang menjadi buruan warga Jawa timur penggemar kuliner khas arab. - Image

Penampkan Nasi Bukhori yang menjadi buruan warga Jawa timur penggemar kuliner khas arab.

JawaPos.com - Masakan Arab kini sudah banyak dijumpai di Indonesia. Tidak perlu menunggu umrah atau harus pergi haji lebih dulu untuk menikmatinya. Karena di Surabaya, Jawa Timur sudah tersedia. Soal rasa tak perlu diragukan. Jika ingin menikmati sup daging atau nasi kebuli, cukup datang ke kawasan Sunan Ampel. 


Begitu juga bagi mereka yang sedang dalam perjalanan melintasi jalur pantura. Terutama ketika melewati daerah tapal kuda untuk menuju ke Banyuwangi atau Bali. 


Saat melintasi Kabupaten Situbondo, coba mampir ke Warung Sate Bang Umar. Letaknya di Pasar Panji. Sekitar 2 kilometer setelah alun-alun Situbondo jika dari Surabaya. Tepat sebelum Pabrik Gula (PG) Panji. 


Seperti namanya, warung tersebut memang menyediakan sate. Namun, setiap hari Jumat, warga Situbondo menunggu sajian spesial dari warung tersebut. Yakni, nasi bukhori. Sajian khas Arab tersebut memang hanya disediakan sekali dalam seminggu. Dan baru siap disajikan sekitar pukul 10.30 atau bahkan pukul 11.00 WIB. 


Namun, jangan harap bisa menyantapnya di sore hari. Bahkan seringkali, sebelum salat Jumat digelar Nasi Bukhori sudah tandas. Para pembeli yang datang sesudah menunaikan salat Jumat kerap gigit jari. 


“Seringkali sejak Kamis malam sudah banyak yang pesan. Jadinya di hari Jumat banyak yang nggak kebagian,” kata H. Badar, pengelola Warung Sate Bang Umar. 


Nasi bukhori adalah salah satu nasi khas Arab yang menjadi buruan para penggemar kuliner Timur Tengah. Berbeda dengan nasi kebuli yang lebih banyak dikenal, nasi bukhori tidak dicampur dengan daging kambing yang dipotong dadu. Tapi dimasak terpisah dengan dagingnya. Bumbu-bumbunya lebih kaya rempah-rempah seperti kapulaga, sereh, cabai merah, hingga kuah dari daging kambing. Dan yang tak kalah penting, sayur tomat. 


Khusus untuk bumbu terakhir tersebut, Warung Sate Bang Umar “mengharamkan” penggunaan saus. Warung yang berdiri sejak 1990 itu hanya menggunakan tomat segar. Tomat itu diolah dengan rempah-rempah yang lain baru dicampur dengan nasi. 


“Bumbu lengkapnya saya tidak bisa menyebut. Itu sudah turun temurun kami masak dan hanya orang-orang tertentu dalam keluarga kami yang tahu,” kata Badar. 


Dalam penyajiannya, nasi bukhori selalu dilengkapi sepotong daging kambing. Daging tersebut bukan daging sembarangan. Tapi daging yang khusus diambilkan dari bagian paha atas kambing. Bagian itu dipilih bukan tanpa alasan. 


Kata Badar, itu adalah bagian paling enak dan lunak. Jumlahnya tak banyak. Satu ekor kambing hanya ada empat potong. “Makanya, kami tidak bisa menjual banyak nasi bukhori,” katanya. 


Potongan paha atas itu dikumpulkan Badar dalam seminggu. Jika rata-rata sehari Warung Sate Bang Umar memotong satu ekor kambing, maka di hari Jumat itu minimal mereka hanya bisa menyediakan 28 porsi nasi bukhori. 


“Kadang-kadang juga kita tambahkan bagian leher kambing. Ada dua potong dari situ yang bisa kami ambil,” katanya. 


Tekstur daging kambing tersebut sangat empuk. Juga minim lemak. Hanya daging dan terasa begitu tebal. Badar mengakui, memasak daging tersebut dibutuhkan waktu yang lumayan lama. Sebab, mereka harus merebusnya selama lebih dari satu jam hingga sangat empuk. 


Air bekas merebus juga tak lantas dibuang. Tapi digunakan untuk campuran untuk menanak nasi bersama tomat dan bumbu-bumbu lainnya.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore