
Puluhan petani tebu yang berada di bawah naungan DPD Aptri Jawa Barat versi DPN menutup akses keluar masuk Pabrik Gula Sindanglaut, Kabupaten Cirebon,
JawaPos.com - Petani tebu di Cirebon Jawa Barat, bergejolak. Mereka menolak menjual gula ke Perum Bulog karena dianggap harga yang ditawarkan terlalu murah. Sehingga dalam bentuk perlawanan mereka menutup akses ke Pabrik Gula (PG) Sindanglaut, Cirebon, Kemarin (24/8).
Hal itu sebagai bentuk protes atas kisruh persoalan gula yang tak kunjung selesai. Petani yang protes itu tergabung di bawah naungan DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (Aptri) Jawa Barat (Jabar) versi DPN.
Adapun wacana pemerintah membeli gula petani melalui Perum Bulog dengan harga Rp 9.700 per. Harga itu dinilai terlalu murah dan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan mayoritas petani.
"Kami tolak harga yang diberikan Bulog. Petani tidak akan menjual gula kepada Bulog dengan harga sedemikian murah. Pemerintah seharusnya bisa lebih bijak. Harga murah sama saja pemerintah mau bunuh petani," cetus koordinator aksi Mae Azhar yang juga wakil ketua DPD Aptri Jabar.
Azhar mengungkapkan, banyak kejanggalan dalam musim giling tahun ini. Antara lain isu penutupan pabrik, gula petani yang tidak laku, persoalan PPN, hingga terakhir penyegelan gula yang susul-menyusul seperti tak habis-habis.
"Tahun ini bisa dibilang petani lagi benar-benar diuji. Persoalan yang dihadapi gak selesai-selesai. Cerna saja sendiri, apa yang dihadapi para petani saat ini seperti terencana. Lihat saja rangkaiannya, sambung-menyambung. Kami para petani akan bersatu menghadapi ini. Tidak ada kata lain, kami akan ke istana menyampaikan persoalan yang dihadapi petani. Ini harus kami lawan," tandasnya.
Dalam aksi tersebut, para petani tidak hanya menyampaikan aspirasi. Sebagai wujud perlawanan kepada pemerintah, mereka juga membagi-bagikan gula milik petani kepada masyarakat yang lewat untuk memastikan gula yang diproduksi pabrik gula tersebut aman untuk dikonsumsi.
"Lihat ini, kami makan gula. Kami seduh dengan air. Tidak ada yang mati. Tidak ada yang sakit. Gula kami layak. Gula kami tidak beracun. Penyegelan yang dilakukan pemerintah adalah wujud kesewenang-wenangan, tanpa dasar dan tidak manusiawi. Lihat keluarga kami di rumah yang kelimpungan gara-gara gula yang tidak laku dan ditambah kini disegel pemerintah," paparnya.
Sementara itu, Didi Junaedi, salah seorang peserta aksi, meminta tim satgas pangan turun ke daerah-daerah dan menyelidiki gula-gula yang beredar saat ini di pasaran karena diduga merupakan gula rafinasi yang bocor di lapangan.
"Ini yang paling penting. Ini juga yang mau saya tanyakan. Sekarang gula kami tidak laku, lalu yang ada di pasaran itu gula siapa? Bukankah rafinasi tidak boleh untuk dikonsumsi langsung, tapi hanya untuk industri? Kami minta tim satgas pangan turun dan membantu petani di tengah kondisi ketidakpastian ini," tegasnya.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
