
Ilustrasi
JawaPos.com - Jumlah penderita human immunodeficiency virus (HIV) di Kota Balikpapan semakin meningkat. Setidaknya hingga pertengahan tahun ini, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bertambah hingga 500 orang.
Tahun lalu jumlah ODHA Balikpapan berkisar 1.110 orang. Kini, jumlahnya terus meningkat hingga 1.507 orang. Hal itu disampaikan oleh Staf Ahli Wali Kota Bidang Sosial, Kesejahteraan, dan Pengembangan SDM, drg Dyah Muryani.
Dia menyebutkan, hampir setiap rumah sakit mencatat peningkatan jumlah ODHA. Terutama beberapa tahun terakhir, virus HIV banyak terdeteksi pada ibu hamil.
“Mereka tidak sadar berpotensi menularkan virus kepada janin dalam kandungannya. Selain itu, HIV juga dapat tersebar karena hubungan seks yang tidak aman dan penggunaan narkoba jarum suntik,” kata mantan Kepala RSUD Balikpapan itu dikutip dari Kaltim Post (Jawa Pos Group), Minggu (6/8).
Dyah menjelaskan, ada beragam masalah sekaligus menjadi tantangan dalam penanganan ODHA. Salah satu problem utama adalah kebanyakan dari penderita HIV/AIDS belum memiliki KTP Balikpapan.
Sehingga tidak terdaftar sebagai warga Balikpapan. Dampaknya, mereka kesulitan mendapatkan fasilitas BPJS Kesehatan. “Padahal mereka sudah tinggal di sini bertahun-tahun. Tidak ada KTP, akhirnya mereka tidak bisa mengurus kartu BPJS. Jadi, rata-rata kesulitan jika ingin berobat. Belum lagi, kebanyakan tergolong golongan tidak mampu dan keluarga sudah tidak mau menerima kehadiran mereka,” ucapnya.
Dia menambahkan, selama ini Pemkot Balikpapan hanya dapat menangani ODHA dengan cara pengobatan dan pembinaan. Contoh dengan hadirnya program Layanan Alat Suntik Steril (LASS) yang sudah terdapat di berbagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat. Kemudian program ‘outlet’ kondom, bukan outlet dalam arti harfiah seperti toko atau warung yang menjual kondom.
Dyah mengungkapkan, outlet yang dia maksud yakni ada orang-orang khusus yang membagikan kondom tersebut. Sebagian besar, mereka yang disebut dengan para penjangkau ini berasal dari komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Sehingga, kondom memang dibagikan untuk komunitasnya masing-masing.
“Jadi jangan salah paham, kondom ini bukan dibagi secara umum ke berbagai orang contoh anak sekolah. Kondom ini juga harus tepat sasaran dan sifatnya gratis, bertujuan mencegah sekaligus mengendalikan penyebaran virus,” tuturnya. Dyah mengungkapkan, peningkatan jumlah ODHA yang cukup signifikan membuat pemkot harus memikirkan penanganan yang serius. Dia mengaku akan segera bertatap muka dengan wali kota untuk membicarakan solusi dari masalah tersebut.
Salah satu yang menjadi perhatian utama yakni akses kartu BPJS Kesehatan bagi ODHA. Terutama untuk mendapatkan obat antiretroviral (ARV). “Sehingga pengendalian infeksi yang ditimbulkan akibat aktivitas seks mereka bisa berkurang, artinya penularan virus bisa tertahan. Dengan begitu, mereka bisa sadar dan tidak mau menularkan virus ke yang lain. Sebelumnya, ada istilah tidak mau sakit sendiri, jangan sampai begitu,” tutupnya. Tidak hanya memperjuangkan hak mereka ke BPJS Kesehatan, Dyah berencana untuk menambah jumlah penjangkau.

Prediksi Susunan Pemain Timnas Portugal vs RD Kongo: Vitinha Incar Gol Pertamanya
Bocor ke Publik! 2 Alasan Krusial Ramadhan Sananta Mau Gabung ke Persebaya Surabaya
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Daftar Pemain Ghana dan Panama di Grup L Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Austria vs Yordania di Piala Dunia 2026: Debut Bersejarah Wakil Asia Terancam di Laga Pertama
Sudah Masuk KBLI, Konten Kreator Didorong Punya NIB untuk Perkuat Legalitas
TVRI Hilang? Begini Cara Memunculkan Sinyal TVRI untuk Nonton Piala Dunia 2026 Gratis
Prediksi Skor Timnas Portugal vs RD Kongo, Duel Pembuka Grup K Piala Dunia 2026 yang Sarat Ambisi
Foto Prabowo-Gibran Dipasang di Salib Merah saat Demo di Monas, PMKRI: Simbol Dua Pendosa
