Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 Juli 2017 | 01.30 WIB

Sumur Ambles, Warga Tak Mampu Merehab

Gambar sumur dan grafis. - Image

Gambar sumur dan grafis.


JawaPos.com- Sejumlah warga terdampak sumur ambles di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, membiarkan sumurnya yang rusak mangkrak. Padahal, fenomena alam itu berlangsung hampir tiga bulan.



’’Memang banyak yang membiarkan ambles dan rusak. Ya sampai sekarang tidak bisa digunakan,’’ kata Plh Sekretaris Desa (Sekdes) Manggis Sunardi.



Imbasnya, pemilik sumur tidak bisa mengambil air di sumur rumahnya. Mereka, lanjut Sunardi, harus bergabung dengan tetangganya yang sumurnya berfungsi. Terlebih, kini pasokan air bantuan dari truk tangki pemkab dihentikan.



Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, air sumur warga yang diperbaiki pun mulai kembali keruh dan berbuih. Sementara itu, sumur lainnya diuruk agar tidak membahayakan. Namun, sumur-sumur tersebut belum bisa digunakan karena belum diperbaiki.



’’Terkendala biaya. Sebab, untuk membuat sumur baru atau mengebor, setidaknya harus mengeluarkan biaya minimal Rp 5 juta,’’ ungkap Sunardi.



Dari lima dusun di Desa Manggis, dia menyebutkan, terdapat 138 sumur yang ambles. Dari jumlah itu, hingga kemarin, yang belum diperbaiki ada 22 sumur. Delapan sumur di antaranya berada di Dusun Jambean.



Kemudian, lanjut Sunardi, di Dusun Nanas ada delapan sumur dan di Dusun Dorok enam sumur yang belum diperbaiki. Artinya, sekitar 15 persen sumur di Desa Manggis rusak akibat fenomena bumi ambles. ’’Yang sudah semua di Dusun Manggis dan Ringinbagus,’’ terang Sunardi.



Selama ini, menurut dia, perbaikan sumur-sumur ambles rata-rata dilakukan warga sendiri. Mereka berswadaya membangunnya kembali.



Sebab, ucap Sunardi, terlalu lama kalau menunggu bantuan. Apalagi, air adalah sumber kebutuhan utama mereka. Makanya, sebagian warga rela mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk memperbaikinya.’’Namun, beberapa instansi lama-lama juga membangunkan sumur dengan sistem komunal,’’ jelasnya.



Sunardi menerangkan, yang dimaksud komunal adalah satu sumur untuk tiga hingga empat keluarga. Saat warga membutuhkan air, beberapa di antara mereka harus memikul air dari tempat yang ditentukan. Beberapa juga ada yang menyalurkan paralon panjang hingga ke rumahnya. (fiz/ndr/c22/diq)




Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore