Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 1 Juli 2017 | 21.05 WIB

Jalur Trans Kaltim Sudah Tak Ideal, Nih Penyebabnya

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - Beban jalan Trans Kaltim begitu tinggi. Utamanya, jalur Samarinda-Bontang dan Samarinda-Balikpapan. Memiliki peran vital dalam aktivitas angkutan orang dan perekonomian Benua Etam, namun kerap terganggu. Itu tak lepas dari minimnya sarana dan prasarana transportasi darat.


Ditilik dari topografi, jalan eksisting sekarang juga dinilai tak layak. Mulai jalan berliku-liku, menanjak-menurun, tidak begitu lebar, dan rawan terjadi ambles, bahkan longsor. Padahal, kedua jalur poros tersebut memiliki tingkat keramaian tinggi.


Semua jenis kendaraan tumplek blek. Mulai yang berukuran “monster” hingga kendaraan kecil. Hampir semua kendaraan dari utara menuju selatan Kaltim atau sebaliknya tertumpu di jalur tersebut. Kehadiran Jalan Tol Balikpapan-Samarinda (Balsam) yang dalam pembangunan dan ditarget rampung akhir 2018 disebut-sebut bisa menjadi solusi dari persoalan tersebut.


“Harapannya begitu (masalah terselesaikan),” ujar Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Tata Ruang dan Perumahan Rakyat (PUTRPR) Kaltim Joko Setiono, belum lama ini.


Dengan banyaknya alternatif, tentu akan terjadi perbaikan pelayanan. Sebenarnya, di luar jalur poros yang ada sekarang, telah ada alternatif jalan Samarinda-Balikpapan melalui pesisir. Yakni, Palaran, Samarinda-Sangasanga-Dondang-Samboja-Manggar, Balikpapan. Jalan umum kelas III yang berstatus provinsi tersebut, terang dia, bisa dilewati kendaraan kecil maupun besar.


Sayangnya, rute tersebut kurang dilirik pengguna jalan. Selain karena mesti berputar ke pinggiran kota, beberapa titik jalan masih mengalami kerusakan. Pertimbangan lain masyarakat enggan melalui jalur tersebut karena dari sisi waktu–dalam keadaan normal– juga relatif lebih lama ketimbang via jalur poros.


Dengan kecepatan rata-rata 50 kilometer per jam, melalui jalur pesisir hingga tiba di pusat kota Samarinda memerlukan hampir empat jam. Sementara itu, jika melalui jalur poros berkisar 2,5–3 jam.


Joko mengatakan, keberadaan tol ketika telah rampung diprediksi bisa membantu mengurai keramaian jalur poros sekarang mencapai 75 persen. Kendaraan berbobot besar atau bertonase di atas 20 ton sangat diharapkan lewat tol. Tanpa dibuat aturan, menurutnya secara bisnis, pemilik kendaraan pasti cenderung memilih jalan bebas hambatan. “Lebih hemat waktu,” tuturnya.


Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim Salman Lumoindong mengatakan, angkutan barang dan jasa juga tak efisien bila terus mengandalkan kedua jalan poros tersebut. Apalagi, moto Dinas Perhubungan, yakni faktor keselamatan dan keamanan menjadi nomor satu yang mesti diwujudkan. “Sangat tidak ideal (jalan Trans Kaltim). Volume lalu lintas terus bertambah,” imbuhnya.


Berdasar data Polda Kaltim, dari peristiwa yang terjadi sejak 16–23 Juni, sudah ada 10 kali kecelakaan lalu lintas di jalur mudik di Kaltim dan Kaltara. Dari kecelakaan itu terdapat korban meninggal dunia sebanyak 6 orang, luka berat 5 orang, dan luka ringan 10 orang.


Pemeliharaan jalan eksisting tersebut juga disebut-sebut berongkos tinggi. Tiap tahun dilakukan pengaspalan, beberapa waktu kemudian sudah berlubang bahkan mengalami penurunan badan jalan. “Di titik A ditangani, titik B kemudian bermasalah. Bisa dihitung setiap tahun berapa untuk pemeliharaan. Dan, itu tidak pernah tuntas,” kata mantan kepala Biro Pembangunan Daerah Setprov Kaltim itu. Bisa jadi malah bila dihitung secara kumulatif, biaya pemeliharaan sama dengan anggaran untuk membangun jalan baru.


Menurut dia, bila tol dan kereta api di Kaltim telah beroperasi, mobilitas barang dan jasa ikut melejit. Salman lantas membandingkan Tol Balsam dengan jalan bebas hambatan Trans Sumatra, Terbanggi Besar (Lampung)-Pematang Panggang (Sumatra Selatan). Dengan panjang yang kurang lebih sama, kecepatan pembangunan Sumatra dan Kalimantan semestinya jadi sama. 


Diketahui, Tol Balsam sepanjang 99,02 kilometer. Sementara itu, Tol Terbanggi Besar -Pematang Panggang sekira 100 kilometer. “Apalagi dengan kereta api. Setahun menyusun trase, paling cepat fisik mulai pada 2020,” ucapnya.


Praktis, kehadiran sarana kereta dan prasarana tol turut mendongkrak terhadap pertumbuhan ekonomi daerah ini. Arus barang dan jasa dalam volume besar bisa diangkut. Ujungnya, membuat harga kebutuhan barang pokok menjadi stabil. Bukan naik-turun seperti kini. “Seberapa besar bisa menekan? Yang jelas sangat signifikan. Apalagi, kalau menteri sudah menyetujui tol sampai ke Bontang, makin melejit lagi,” tutur dia.


Keberadaan kereta, terangnya, memang akan terasa dampaknya dalam 10–20 tahun. Mulai diwujudkan sekarang, tentu lebih baik ketimbang ekonomi meningkat baru berpikir membangun kereta api.

Editor: Fadhil Al Birra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore