
MIRIS: Kondisi M. Mifbachul Ulum, pasien gizi buruk, sangat memprihatinkan. Kini dia dirawat di ruang Aster RSUD dr Soebandi Jember.
JawaPos.com- Syaiful, warga Rambipuji, Jember, terduduk lemas di samping ranjang di ruang Aster RSUD dr Soebandi Jember. Dia mengkhawatirkan kondisi keponakannya, M. Mifbachul Ulum, pasien gizi buruk yang masih dalam perawatan. Sebab, pengurusan administrasi untuk keringanan biaya rumah sakit masih terkendala.
’’Kami sudah mengurus mulai desa. Tapi, di depan (loket) katanya tidak bisa karena tidak ada KK (kartu keluarga) asli,’’ ucap Syaiful.
Maklum, bocah yang mengalami gizi buruk itu baru pindah ke Rambipuji, beberapa waktu lalu. Saat datang ke Jember, kondisinya cukup mengenaskan.
Ulum pada usia 13 tahun, bobotnya hanya 5 kilogram. Tubuhnya hanya terbungkus kulit. Selain itu, kulitnya gosong dan mengelupas.
Bocah gizi buruk tersebut memang yatim piatu. Orang tuanya, Yusuf dan Iin, meninggal sejak Ulum masih TK. ’’Ulum sebelumnya ikut keluarga ibunya di Pasuruan,’’ jelas Syaiful, saudara dari bapak Ulum.
Beberapa bulan lalu Ulum dipindah ke Jember karena budenya yang merawat di Pasuruan mengalami stroke. Karena itu, kata Syaiful, Ulum ikut dirinya dan neneknya, Juariya. Syaiful pun belum sempat mengurus surat-surat kepindahan bagi Ulum dan KK baru.
Sejak Rabu (24/5), sebenarnya Syaiful sudah mengurus ke desa dan kecamatan untuk mencari solusi atas masalah itu. Salah satunya, mengurus surat keterangan tidak mampu ke desa dan kecamatan. ’’Juga sudah mengurus surat domisili pindah dari desa dan kecamatan,’’ jelasnya.
Untung, dalam kondisi itu, ada anggota Komisi D DPRD Jember Alfian Andri Wijaya mengunjunginya. Dia ikut mengurus dan membantu Ulum agar bisa dirawat di rumah sakit milik Pemkab Jember tersebut.
’’Tadi kami sudah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit dan dinas sosial. Sebab, pasien ini benar-benar pasien miskin,’’ jelas Alfian.
Bahkan, pihak desa dan kecamatan sudah mengetahui kondisi rumah Juariya dan Syaful. ’’Mereka memang dari masyarakat kurang mampu. Rumahnya saja dari gedek. Saya kemarin ikut menjemput agar mau berobat ke rumah sakit,’’ jelasnya.
Dia berharap biaya pengobatan untuk Ulum bisa di-cover APBD Jember yang memang khusus untuk biaya pengobatan pasien miskin. Soal masalah administrasi, Humas RSUD dr Soebandi dr Evy menyatakan, sebenarnya itu bukanlah masalah berat. Pihaknya juga memberikan kelonggaran. ’’Bisa kok memakai keterangan surat domisili dari desa dan kecamatan,’’ terangnya.
Asalkan, kata Evy, pihak desa menyatakan pasien tersebut adalah warga miskin. Namun, pihaknya lebih mengutamakan penanganan medis agar kondisi Ulum segera pulih. (ram/aro/c5/diq)

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
